logoblog

Cari

Tutup Iklan

Tausyiah Dua Ulama Muda Kebanggaan Pulau Lombok

Tausyiah Dua Ulama Muda Kebanggaan Pulau Lombok

Suatu kebanggaan bagi Gumi Patut Patuh Patju Lombok Barat dijadikan sebagai pusat peringatan bulan kelahiran atau yang lebih dikenal dengan Maulid

Peristiwa

muhammad busyairi
Oleh muhammad busyairi
01 April, 2014 14:09:28
Peristiwa
Komentar: 0
Dibaca: 197876 Kali

Suatu kebanggaan bagi Gumi Patut Patuh Patju Lombok Barat dijadikan sebagai pusat peringatan bulan kelahiran atau yang lebih dikenal dengan Maulid bagi junjungan alam Nabi Besar Muhammad SAW tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).  Peringatan yang tiap tahun rutin dilakukan ini, tahun 1435 H/2014 M ini mengambil tempat di Bencingah Agung Kantor Bupati Lombok Barat awal tahun ini (2014). Yang lebih membanggakan lagi yang mengisi ceramah adalah dua ulama muda, yang meski memiliki suku bangsa yang berbeda, tetap menjadi kebanggaan Pulau Lombok karena ke`aliman, kedalaman ilmu dan kecintaan mereka pada Lombok.

Tuan Guru Bajang (TGB) KH.Muhammad Zainul Majdi (42 tahun), Gubernur NTB sekaligus ulama muda Doktor Tafsir Al-Qur`an alumnus Universitas Al-Azhar yang karena kedalaman ilmu dan intelektualitasnya hingga Mufassir Kondang kebanggaan Indonesia Prof.Dr.Muhammad Quraisy Shihab yang juga alumnus Al-Azhar menyebutnya sebagai generasi mufassir yang lebih baik setelahnya. Segala kelebihan, prestasi, dan sebagainya dari cucu Pendiri Organisasi Nahdatul Wathan, TGKH.Muhammad Zainuddin  Abdul Madjid (alm), ini pun sudah banyak yang mengetahui dan mengakui. Beliaulah pemilik gawe acara sekaligus pemberi tausyiah pertama.

Tausyiah kedua, disampaikan oleh ulama muda asal Madinah, namun selain berkewarganegaraan Arab Saudi juga oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono dianugerahi Kewarganegaraan Indonesia Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang beralamat di Lombok. Beliau adalah  Syeikh Ali Saleh Muhammad Ali Jaber (38 tahun), seorang Da`i Internasional sekaligus Imam Besar Masjid Madinah.

Tausyiah TGB: Periode Dakwah Rasulallah 13 Tahun Di Mekkah, 10 Tahun di Madinah

H.Muhammad Zainul Majd secara kebetulan ada tugas menyangkut jabatannya sebagai gubernur di Jakarta sehingga datang bersama dengan Syeikh Ali Jaber, dengan pesawat yang sama Jakarta-Lombok dan kendaraan yang sama dari BIL ke Kantor Bupati Lombok Barat. Beliau berdua disambut oleh Bupati Lombok Barat, Dr.H.Zaini Arony serta ribuan jamaah yang dengan sabar menunggu kedatangan mereka berdua.

 “Walaupun agak terlambat tiang mohon maaf karena kebetulan rencananya pesawat mendarat setengah sembilan tetapi ya begitulah..kepadatan lalu lintas udara sehingga terlambat satu jam,” TGB meminta maaf kepada jamaah atas keterlambatannya. Selanjutnya, putra dari Hj.Siti Rauhun mengajak jamaah untuk  bersyukur bisa bersilaturrahim dalam rangkaian memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW.

“Satu hal yang ingin tiang ajak kita semua untuk berfikir dan merenung adalah bagaimana Rasul SAW di dalam masa hidup beliau yang sangat singkat, tidak usah dihitung 40 tahun sebelum beliau diutus menjadi Nabi dan menjadi Rasul. Tetapi dihitung 23 tahun karena itulah saat di mana beliau melaksanakan visi dan misinya sebagai manusia dan sebagai utusan Allah SWT,” kata tuan guru muda ini menyejukkan.

Selanjutnya dia mengajak untuk merenungkan bagaimana 13 tahun di Mekkah, 13 tahun dalam keadaan yang serba terbelenggu, tidak bebas, tekanan demi tekanan, intimidasi demi intimidasi, terus menerus, namun Rasulullah terus bisa bergerak di bawah tanah untuk mengarah kepada arah yang ditunjukkan oleh Allah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh Allah. Kemudian, katanya, pada 10 tahun di Madinah-lah beliau benar-benar mampu dengan sepenuhnya, dengan pengendalian beliau, tentu dengan izin Allah, dengan bimbingan Allah, dengan bantuan dari para sahabat dan bersinergi dengan seluruh ummat, pada 10 tahun itulah Baginda Rasulallah SAW membangun dan perubahannya luar biasa.

Gubernur yang juga hafiz ini menyampaikan sebuah kata menarik dari Sayyiidina Umar, kata Sayidina Umar Orang yang tahu betul besarnya perubahan yang terjadi adalah orang yang hidup di masa Jahiliah. Kalau kita sekarang, kata TGB, mungkin tidak begitu berasa, lahir bapak kita sudah Islam, kakek kita sudah Islam, nenek kita Islam. Sementara Sayyidina Umar mengatakan itu karena beliau juga sebelumnya hidup di zaman Jahiliah. Jadi beliau tahu betul bagaimana perubahan yang dibawa oleh Baginda Rasulallah SAW itu sangat fundamental, sangat radikal, sangat mendasar dan sangat akseleratif, sangat cepat. Sepuluh tahun seperti itu perubahannya.

“Nah bagi kita semua, termasuk bagi saya, tidak tahu mungkin sepuluh tahun ini salah satu yang mengilhami kenapa kepemimpinan Indonesia ini pasca amandemen itu hanya dua periode, satu periode itu lima tahun, jadi kalau dua periode itu 10 tahun artinya di dalam 10 tahun Baginda Rasul itu betul-betul efektif melaksanakan kepemimpinannya. Betul-betul mampu memanfaatkan waktunya dengan sebaik-baiknya. Jadi tidak ada waktu yang terbuang, tidak ada waktu yang tersia-siakan, semua berjalan dengan betul-betul berdaya guna dan berhasil guna yang luar biasa. Out put-nya hebat outcome-nya juga luar biasa, kemanfaatan untuk umat juga luar biasa dan itu bisa kita nikmati sekarang,” tegas TGB.

Keberhasilan Nabi itu, katanya, bisa menjadi pelajaran bagi kita semua termasuk beliau sendiri sebagai gubernur. “Kepada Pak Bupati juga, saya dengar kemarin baru melakukan mutasi di Lombok Barat, ada Camat yang baru, kepala dinas yang baru, saya ajak kita semua untuk merenungkan ini bahwa dalam batas waktu yang sangat singkat yang diberikan kita amanah maka mari kita tunaikan dengan sebaik-baiknya, mengikuti bagaimana Rasul SAW juga mengefektifkan waktu beliau sehingga kemudian kemanfaatan dari apa yang beliau laksanakan itu tidak terbatas hanya pada generasi beliau tetapi terus menyambung bahkan sampai kita sekarang,” ajak TGB. Diharapkannya, semua itu menjadi inspirasi, laqod kaanalakum fii rasuulullahi uswatun hasanah, pada diri Rasul ada suri tauladan yang sangat baik.

“Semoga kita bisa meneladaani beliau. Terima kasih, selamat memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW semoga syafaat beliau terlimpah kepada kita semua,” tutup TGB.

Acara tersebut juga disebarluaskan melalui Radio Pemerintah Kabupaten Lombok Barat yaitu Suara Giri Menang FM, 99, 1 MH (Sekarang 99,4 MH).

Hikmah Maulid oleh Syeikh Ali Saleh Muhammad Ali Jaber

Memulai tausyiahnya, ulama muda, yang layaknya kebanyakan orang Arab berbadan tinggi ini, menyapa jamaah yang hadir dengan Bahasa Indonesia yang sudah fasih dan enak didengar.

“Bapak ibu kaum muslimin muslimat para `alim ulama tuan guru yang hadir di sini yang saya cintai, yang saya muliakan sahabat baik saya Bapak Gubernur, Alhamdulillah beliau hadir bersama dari Jakarta dan sesudah mengalami hujan besar, mungkin itu sebabnya delay pesawatnya, bukan hujan lagi tapi hujan angin, kayaknya pulang nanti sore sudah banjir. Bapak wakil gubernur, Pak Bupati Lombok Barat, semua yang hadir, mohon maaf tidak bisa saya sebut satu persatu. Insya Allah di sisi Allah mulia dan diterima semua ibadahnya,” kalimat Syeikh Ali Jaber memberi penghormatan kepada seluruh undangan yang hadir.

Cinta Lombok, Ingin Meninggal di Lombok

Dikatakannya, alhamdulillah wasyukrulillah, hanya dua hari sebelumnya dia mendapat undangan untuk hadir di acara tersebut, dan terbukti dia tetap hadir meskipun berjadwal padat.

“Kayaknya boleh menerima jadwal mendadak hanya untuk Lombok saja. Apalagi Bulan Maulid, biar bapak ibu tahu saya setiap hari menerima undangan surat, email, fax, atau telepon, lebih dari 200 undangan, itu perhari, coba mana yang mau kita terima dan mana yang mau kita tolak,” ujarnya bercerita apa adanya.

Bahkan, katanya, dua hari yang lalu beliau baru pulang dari Mandailing Natal, yang perjalanan dari Padang 9 jam lewat darat (naik mobil). Semestinya, katanya, pagi 17 Januari ini jadwalnya di Jakarta tapi beliau sudah memohon kepada jamaah karena rutin diganti Ustaz yang lain. Selain itu, jadwal yang siangnya semestinya ke Papua dimundurkan berangkat malam harinya supaya bisa hadir di acara peringatan Maulid di Lombok NTB.

“Saya sangat sayang dan cinta Lombok, dan waktu saya diberikan keputusan oleh Bapak Presiden mendapat warga negara saya minta satu, tolong Pak Presiden semua surat saya dari Lombok. Oleh karena itu warga negara Indonesia saya ber KTP Lombok. Jadi tidak bisa kemana-mana biarpun sibuk biarpun jauh tapi tetap balik lagi ke Lombok,” ucapnya diikuti tepuk tangan hadirin.  Tidak hanya itu, pria `alim ini juga mengaku rela kalau suatu saat kembali kehadirat Allah SWT di Lombok.

“ Kalau selain cita-cita saya dikuburkan di Kota Madinah tempat kelahiran saya, kalau Allah ijinkan selain kalau bukan di Madinah insyaAllah saya pilih Lombok untuk dikuburkan,” katanya serius.

10 Tahun Rasulallah SAW Bangun Madinah

Tidak jauh berbeda dengan yang disampaikan TGB sebelumnya, Syeikh Ali Jaber mengatakan banyak yang bisa kita ambil pelajaran dari perjuangan Rasulallah. “Yang saya lihat inti dari dakwah Nabi kita Nabi Muhammad SAW 10 tahun itu. Dari 13 tahun di Makkah, penuh ujian, belum lagi dimusuhi oleh keluarga beliau SAW. Namun begitu beliau menunjukkan keikhlasan dan kesabarannya,” ujarnya.

Di Madinah, katanya, Rasulallah membangun umat Islam dalam 10 tahun. Sebelum terwujud pemimpin yang amanah, pemimpin yang adil, pemimpin yang mulia, sebagaimana Rasulallah SAW, terwujud juga di saat itu masyarakat yang bersatu. Saling cinta, saling isi, damai, tidak ada persoalan yang tak terpecahkan, mereka bersatu, dan mengorbankan jiwa mereka, harta mereka, bahkan keluarga mereka, demi Rasulallah SAW.

“Allah satukan antara Kaum Muhajirin dan Anshar, setiap orang korbankan harta dan istrinya, bahkan menawarkan separuh hartanya. Saya selama ini di Lombok belum pernah ada yang menawarkan separuh hartanya,” ujarnya sambil tersenyum kepada hadirin.

Tidak bisa dibayangkan, katanya, seorang Anshar yang punya dua istri menawarkan salah satu istrinya. “Seorang muhajirin baru datang dari Mekkah tidak punya apa-apa, hei belum menikah? Belum! Ini istriku satu kira-kira mana yang cantik, ambil. Bisa pilih lagi. Dan saya seorang kaya raya saya sedia memberi separuh harta saya. Ini berjuangan sebenarnya bukan main-main. Ini hasil belajaran dan dakwah Nabi kita Muhammad SAW yang ditanamkan dalam jiwa dan hati mereka. Dan mereka bukan hanya mendengar belajaran itu tapi langsung praktik,” katanya dengan pilihan kata yang kadang terdengar ganjal namun menarik seperti belajaran untuk pelajaran.

Dan hal ini, menurutnya, adalah kekurangan kita. Belum kita mampu mempraktik dalam kehidupan sehari-hari.

“Paham? Paham. Tahu? Tahu. Bahkan kita setiap tahun memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, untuk apa? Untuk apa? Kalau kita belum mampu membuat berubahan dalam hidup kita dengan cara yang baik. Untuk mendapat ridho Allah dan syafaat pada Nabi Muhammad SAW.

Disebutkannya, sebaik-baik manusia yang memberikan kasih sayang kepada manusia tiada lain adalah Rasulallah SAW. Dan wajib kita sebagai umatnya memperjuangkan perjuangan beliau. Menurutnya, seharusnya kita bangga karena kita terpilih menjadi umat Baginda Rasulallah SAW. Umat akhir zaman tapi umat yang pertama masuk syurga bersama Rasul. Umat yang usianya pendek, tidak sebagaimana umat-umat terdahulu tapi Allah lipatkan amal shalehnya, bisa jadi satu malam mendapatkan nilai 83 tahun yaitu lailatul qadr.

“Berarti kalau bapak ibu yang peroleh lailatul qadr 10 kali berarti sudah punya usia ibadah 830 tahun. Ini kelebihan umat Nabi Muhammad SAW,” katanya.

Syeikh Ali Jaber menyampaikan, bahwa Rasul SAW mendoakan untuk keselamatan kita. Bahkan Rasulallah sangat sedih kalau ada di antara umatnya yang masuk neraka. Sebagai contoh, tetangga Rasul di Madinah orang Yahudi, setiap Rasul keluar dari rumahnya melihat sampah, Rasul SAW sendiri, padahal beliau mampu menyuruh orang lain, namun dengan tangannya yang mulia mengangkat sampah itu. Berkali-kali seperti ini, tiba-tiba suatu hari Rasul keluar dari rumah kok gak ada sampah. Tumben gak ada sampah, sahabat melihat Rasul SAW heran kenapa gak ada sampah ini, sahabat berkata Ya Rasulallah anak yang suka buang sampah di sini, anak orang Yahudi, dia kebetulan lagi sakit.

“Tapi coba lihat sikap Rasul, “Sakit? bagus, karena dia sering buang sampah biar dia rasa sakitnya,” Rasul dapat saja mengucapkan begitu. Begitu Rasul mendengar orang Yahudi lagi sakit, ayo mari kita silaturrahmi, Rasul datang, melihat betul anak itu lagi sakit. Namun Rasul mempunyai keinginan jauh lebih tinggi daripada persoalan pribadi. Memikirkan masa depan yang kita sama-sama akan hadapinya. Bukan masa depan anak kita harus lulus sekolah, bukan masa depan kuliah yang terbagus, itu bukan masa depan, masa depan itu kalau kita lewat jawaban Malaikat Munkar Nakir, ini masa depan. Kalau kita masuk dalam kubur yang gelap dan sempit, yang kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi besok. Apakah ada nanti yang mendoakan kita sebagaimana kita istiqomah mendoakan orangtua kita,” kata Syeikh Ali Jaber membuat hadirin terpukau.

Dilanjutkannya, begitu Rasul mendengar anak itu lagi sakit, langsung Rasul SAW mengingatkan dua kaalimah syahadat, kul laailaahaillallah wamuhammadarrasuulallah , dua kata kalimat syahadat yang akan membelamu di hadapan Allah. Subhanallah. Anak yang memusuhi Rasul tapi Rasul berkenan membela beliau di hadapan Allah.

Pulau Seribu Masjid Sedikit Jamaah

Syeikh Ali Jaber juga memuji sekaligus menyindir Pulau Lombok atau lebih tepatnya orang Lombok, yang dikenal sebagai pulau yang terbesar atau yang paling banyak masjid.

“Pulau seribu masjid, ini salah angka, seratus ribu masjid, bukan seribu masjid seratus ribu masjid. Semestinya Lombok itu menjadi propinsi yang makmur, aman, bukan hanya tugas pemerintah kita, kita harus membuktikan, dan tidak perlu kita orang berkata saya orang Lombok atau saya orang yang damai, tidak perlu bicara tapi biarkan orang melihat contoh baik kita sehari-hari. Orang datang ke Lombok dia pulang ke sini dia senang hati, saya punya sejarah Lombok itu yang terbaik. Karena perbuatan kita,” katanya terdiam sejenak.

 

Baca Juga :


“Pulau seribu masjid sedikit jamaah. Tiang masjid lebih banyak daripada jamaahnya,” kata Syeikh Ali Jaber selanjutnya diikuti senyum hadirin. Bahkan, katanya, beliau pernah  masuk di satu masjid di satu kampung seseorang yang merangkap peran yaitu dia marbot dia muazzin dia imam dia buka masjid dia tutup. “Laa hawla walaa quwwata illaa billaaahi…saya minta Bapak Ibu, tolong hayati seandainya sekarang Rasulullah ada hadir di tengah kita, kalau sekarang Rasul ada di tengah kita. Kita malu gak? Kalau Anda dapat kesempatan menghadap Rasul, apa yang mau kita ucapkan? Ya Rasulallah aku cintamu? terus Rasulullah bilang mana (buktinya)? Coba kalau Rasul datang sekarang di zaman kita dan masuk masjid musolla semuanya, sepiiiii, sayang umat yang berkata aku cinta Rasul.  Kalau bapak ibu saya tanya, cinta Rasul gak?...cinta… ndak perlu berteriak. Karena cinta Rasul tidak perlu teriak aku cinta Rasul!!! Ndak perlu. Sekeras apapun kita teriak karena yang terlihat adalah perbuatannya.” Kata Syeikh ini tegas dan menyindir.

Rasul SAW Rindu Kita

Dikatakannya, Rasul SAW selalu mendoakan kita, bahkan Rasulullah selalu merindukan kita.

“Saat saya baca satu Hadits, saya sedih, Rasul SAW mengunjungi pemakaman salah seorang sahabat kemudian beliau mengambil kayu ke tanah, beliau nangis, kata sahabat Ya Rasulallah engkau lagi nangis?kenapa nangis? Apakah dia yang mau dikuburkan orang yang mulia bagimu sampai engkau nangis? Bukan, aku nangis aku ingat saudaraku, aku merindukan saudaraku. Kata sahabat, apakah kami bukan saudaramu, Ya Rasul? Bukan, kalian bukan saudaraku tetapi kalian adalah sahabatku. Siapa saudaramu, Ya Rasulullah? Saudaraku adalah orang-orang yang percaya kepadaku, cinta kepadaku, mereka bersedia korbankan segalanya untukku walaupun mereka belum bertemu denganku tapi begitu luar biasa cintaannya kepadaku. Mudah-mudahan kita semua termasuk orang ini, saudara Rasul. Wahai sahabatku sampaikan salamku kepada mereka, ini Rasul titip salam lewat sahabat kepada saudaranya. Dia tidak pernah bertemu Rasul tapi iman dan percaya kepada Rasul. Sampaikan salam, beritahu mereka aku menunggu mereka di hadapan pintu surga. Barangsiapa yang sekali minum dari tangan Rasulullah selama-lamanya tidak akan haus. Allahu akbar, Rasul menunggu kita di hadapan pintu surga,” kata Syeikh Ali Jaber dengan mata berkaca-kaca.

Kepada jamaah diharapkannya untuk jangan sampai salah alamat, karena kalau salah alamat larinya ke neraka. Ditambahkannya, barangsiapa yang ingin mendapatkan kemakmuran yang luar biasa, makmur dan sejahtera yang luar biasa, rizki yang luar biasa, beribadahlah yang luar biasa Allah berikan perubahan yang luar biasa.

“Tapi jangan meminta perubahan yang luar biasa tapi kita masih biasa-biasa. Syukuri yang sudah ada akan Allah berikan yang belum ada. Masalahnya kita tidak mensyukuri yang sudah ada. yang sudah ada Alhamdulillah, ini yang dibagi kue sama isinya tidak ada yang beda,” katanya sambil menunjuk kue yang ada di depannya.

Syeikh Ali Jaber bercerita, pernah ikut buka puasa di satu acara, ramai jamaahnya saat dia duduk, pas saat dibagi kotak nasi, bagiannya, yang sebelah kanan dan sebelah kiri kotaknya warna merah, yang di depannya warna putih. Mungkin kareana kehabisan warna merahnya jadi dibagikan warna putih.

“Saya sibuk doa sebelum buka puasa, yang di depan saya begitu saya buka kotaknya melihat oo ternyata sama, cuma berbeda warna. Tapi intinya tidak mensyukuri yang sudah ada. Anda sudah punya kenapa melihat yang lain,” katanya.

Bersatu Bangun Lombok

Disampaikannya, banyak hal-hal yang bersama ingin dirubah di Lombok. Tapi begitu melihat orang lain kita iri. “Gubernur tolong ini semua, mana bisa. Dan saya yakin semua pemerintah kita, gubernur, Pak Bupati, Pak Presiden, semua bekerja keras untuk kita. Saya yakin dan percaya. Tapi yang perlu ada yaitu dua hal kita menjadi masyatakat ynag bersyukur dan yang kedua kita selalu mensupport mereka dalam doa. Bahkan Islam mengingatkan kita jamaah baru berangkat umrah, haji, wajib, mendoakan negerinya, mendoakan propinsinya. Supaya kita jangan hanya berdoa untuk diri sendiri, negeri kita membutuhkan doa kita. Bahkan saya sisipkan doa saat tawaf ada khusus doa untuk negeri kita, saat kita shalat malam kita berdoa untuk negeri kita sehingga menjadi baldatun toyyibatun warabbun ghafuur,” harapnya.

Ulama muda ini mengatakan, tidak ada sesuatu yang terbaik yang tersisa, semuanya sudah disampaikan oleh Rasulullah SAW.

“Saya melihat di Lombok banyak berbedaan pendapat itu terjadi permusuhan, padahal semestinya selama masih ada berbeda pendapat kita ambil hikmahnya. Tapi tidak boleh ada perbedaan hati tetapi bersatu hati, saling cinta. Ributnya setiap tahun perayaan Maulid boleh atau tidak, setiap shalat shubuh qunut boleh atau tidak boleh, setiap lepas acara doa berjamaah boleh atau tidak boleh,” katanya. Padahal, katanya, persoalan perbedaan itu bukan baru sekarang, tapi dari zaman dulu, perbedaan antara Imam Maliki dengan Imam Syafii, Imam Syafii muridnya Imam Maliki, ada perbedaan antar dua mazhab, tapi tidak pernah didengar Imam Maliki berkata “ Imam Syafii ini anak yang nakal masak berbeda dengan guru”. Ndak ada. Justru salutnya Imam Maliki terhadap Imam Syafii. Oleh karena itu jamaah sekalian harus kita benar-benar bersatu, saling mengerti, saling memahami, jangan sampai kita salah alamat, Rasulullah menunggu kita di hadapan pintu syurga, jangan ada yang gagal, jangan ada yang telat, mundur atau mengeluarkan diri dari umat Nabi Muhammad SAW. Harus kita saling mengisi, saling mengerti. Alhamdulillah Lombok termasuk salah satu propinsi yang banyak alim ulamaanya, yang banyak para tuan gurunya yang perlu kita perhatiin mereka. Dan kita melihat, jujur saja, di zaman ini, belakangan ini, jarang kita melihat orang yang mengunjungi tuan guru, padahal apa yang kita dapat  saat ini karena tuan guru. Silaturrahui mereka, kita terus belajar bersama mereka karena kita membutuhkan pimpinan seperti mereka,” ujar Syeikh Ali Jaber tepat.

Sebuah Amalan, Cara Merindukan Rasulallah

Pada bagian akhir ceramahnya, Syeikh Ali Jabir memberikan sebuah amalan dan sebuah cerita.

“Rasul SAW memberikan kepada kita amalan, saya tutupi ceramah saya dengan sebuah amalan dan satu cerita dan saya harap insyaAllah lain waktu kalau bisa hari Sabtu atau hari Ahad, dengan ijin bapak gubernur atau bapak bupati, mohon supportnya supaya kita bisa sesekali mengundang TV One di Lombok. Saya sebenarnya sudah perjuangkan di TV One untuk Lombok ini. Untuk mendatangkan mereka, kita isi supaya acara Damai Indonesiaku bukan hanya dikenal di banyak daerah tapi juga orang bisa kenal Lombok lewat TV One. Melihat kita bagaimana masyarakat yang makmur, yang rapi, yang tertib, yang bersatu, kita buktikan karena ini yang akan tertinggal dalam sejarah kita,” katanya.

Dikatakannya, kita semua akan meninggal dunia, dan yang tersisa adalah nama baik. Apakah kita mau menjadi orang yang membawa nama baik, begitu meninggal dunia disebut namanya, didoakan oleh masyarakat. Ya Alah ampuni dan rahmati. Berbeda dengan orang yang dalam hidupnya punya sejarah jelek begitu meninggal dunia alhamdulilllah sudah habis.

“Pilih yang mana. Ini menjadi bersejarah. Semua kita berdoa, akan bahagia seseorang yang mampu menuliskan namanya dalam sejarah, ada orang yang berkata, apa yang bisa kita perbuat, banyak yang bisa kita perbuat. Rasulallah SAW sendiri, biarpun beliau mulia biarpun beliau disayangi Allah dicintai Allah, utusan Allah tapi kalau beliau sendiri belum tentu bisa berbuat apa-apa. Allah SWT memberikannya sahabat, lingkungan yang begitu kuat, yang begitu bersatu, cintaaannya kepada Rasul sangat luar biasa. Oleh karena saking tinggi ikhlas dan cintaannya kepada Rasul, Allah juga ikhlas terhadap sahabat hingga sahabat meninggal dunia. Allah ridho terhadap mereka, karena mereka rela, ikhlas, jujur dan benar-benar cinta rasulallah SAW,” kata Syeikh Ali Jabar.

Kita tidak pernah bertemu Rasul tapi insyaAllah kita semua sama-sama cinta Rasul. Saya berikan amalan, insyaAllah lewat amalan itu, kita bisa meningkatkan dan menanamkan rasa cinta kepadaa Rasul. Amalan itu adalah cara membaca Shalawat. Saat kita mau berselawat ingat dua hal, yang pertama rasakan saat kita berselawat Rasul mendengar selawat kita, Rasul lagi mendengar selawat kita, memang Rasul mendengar, ada Malaikat bertugas, begitu kita berselawat Malaikat menyampaikan, Ya Rasulallah ini shalawat bapak fulan, ibu fulanah dari Lombok. Disampaikan, bisa dikenal nama kita. Cukup hanya sepuluh kali sehari kita bisa berselawat kita bisa mendapat syafaat Nabi Muhammad SAW. “Barangsiaaa yang bershalawat kepadaku dalam sehari semalam sepuluh kali saja dia mendapat syafaatku,” Sabda Rasulallah. Bahkan Imam Ibnul Qoyyim menjelaskan lebih dari 100 manfaat dari selawat. Di antaranya diampuni dosa, dimudahkan dan dikabulkan hajatnya, diangkat segala kesusahannya. Yang kedua, saat kita membaca selawat kepada Rasul tolong rasakan dengan rasa merindukan rasul, ingin bertemu dengan Rasul. Kalau bisa seperti itu saya jamin belum sepuluh kali selawat sudah nangis duluan. Karena orang yang tidak merindukan Rasulallaah dia bukan orang mukmin yang sempurna imannya bahkan dia orang munafik yang belum bisa merindukan rasul.

Sebuah Pesan dan Cerita Tentang Kematian

Selanjutnya Syeikh Ali Jaber mengajak jamaah mempersiapkan kematian. Katanya, mudah-mudahan bapak ibu diselamatkan oleh Allah panjang umur biar dapat kemudahan ke tanah suci haji dan umrah dan ziarahi Nabi Muhammad SAW. Semua bapak ibu tidak lama lagi akan masuk rumah kita yang baru. Tahu tidak rumah kita yang baru?, memang belum kesana, harus survey dong, besok kita masuk sana, yakin ini, rumah kita yang baru, yang kaya yang miskin rumahnya nanti sama. Bapak Presiden, tukang ojek sama rumahnya, tak ada beda sedikitpun, ruang yang sama, gelap lagi.

Hadir menemani kita itu amalan kita di dunia. Kira-kira sudah siap belum? Jangan takut mati, itu karena haqqul yaqin pasti, ndak perlu takut. Tapi yang perlu kita pikirkan bagaimana cara baik kita mati. Itu namanya husnul khatimah yang kita perjuangkan, sekali-kali survey di sana, malam minggu, bapak keluar ajak ibu sama anak-anak, ayo kita jalan-jalan malam minggu, mau kemana? Makan di mana? Saya mau bawa ke tempat yang terindah, cuma sekali aja masuk, cuma keluarnya nanti. Mau kemana? Kuburan.

Saya kasi hadiah (pesan), mulai hari ini tolong masing-masing beli kain kapan, saya Alhamdulillah sudah beli, jangan dibeliin sama orang, kita beli sendiri dengan harta yang halal, belum tentu dibelikan besok duitnya darimana, lebih baik kita beli supaya tau ini halal supaya nanti masuk di tanah sudah jelas bersih. Beli kain yang bagus yang putih, apalagi kalau kita simpan di rumah, subhanallah, tapi jangan di ruang tamu, nanti ada tamu datang, ada apa Pa k?simpan di kamar tidur apalagi di tempat terbuka digantung di atas kamar tidur. Saya serius, silakan ketawa sekarang tapi nanti serius ini.

Sebuah cerita, Ada seorang kaya raya, penjahat, sempat ditangkap dan dihukum masuk penjara, keputusan hakim dihukum mati karena banyak kejahatannya, membunuh orang, macam-macam. Dia berpikir bagaimana selamatkan diri dari penjara itu, dia kenal sama seorang penjaga, ee gimana kita bisa larikan diri dari tempat ini?. Ndak bisa!. Saya berani korbankan separuh harta saya, yang penting saya keluar, saya tidak mau mati. Sayang sekali harta dan kekayaan itu untuk dinikmati, penjaga mulai berubah pikiran.Separuh harta lumayan ini, pikirnya.

Satu-satunya cara untuk bisa keluar dari sini adalah di kamar jenazah, kebetulan setiap minggu ada jenazah yang keluar, jadi sembunyi di dalam situ, itu satu-satunya peluang. Tidur sama mayat. Ya saya setuju, terus nanti gimana? pokoknya ente masuk, nanti ketemu saya di luar. Caranya gimana? Di bawah jenazahnya dan dikuburkan. Biarpun gelap? Jangan takut, nanti semua orang pada pulang saya akan datang buka kuburnya saya akan selamatkan. Setuju? Saya masuk dalam ya? Ya daripada mati. Tapi jangan lama ya?

Malam hari ada jenazah yang mau dibawa besok buat dikuburkan si penjahat itu tidur di dalam jenazah di samping mayat. Dia takut, berkeringat. Tapi dia masih punya harapan untuk hidup. Dengan segala cara pokoknya yang penting hidup. Diam dia, paginya datang orang mengurus jenazah, dia sudah mulai mendengar suara. Ternyata saat dibawa jenazahnya, kata seseorang, kok tumben jenazah ini berat sekali?. Orang itu mendengar bisikan takut kalau dibuka jenazahnya ketahuan . Ee memang semua penjahat itu gemuk-gemuk.

Sampai di kuburan, dibawa masuk dia ndak berani buka dia bertahan demi hidup. Begitu sudah ditanamkan dan dikuburkan sudah mulai merasa kekurangan udara. Sudah mulai tambah gelap, hatinya mulai takut, kapan penjaga datang menolong saya dari sini? 10 menit 20 menit sudah lewat mulai dia sesak nafas. Jangan-jangan saya mati dalam keadaan begini. Saya sudah berupaya, ya ya semoga sebentar lagi datang. Kebetulan dia di sakunya ada korek. Dia mau lihat juga waktunya, ndak bisa lihat jam, ya Allah sudah 40 menit belum datang, tambah sesak nafas dan bertambah takut, ingin melihat si mayit yang di bawahnya, pas dia melihat muka si mayat itu ternyata yang mati adalah penjaga. Jadi satu-satunya yang tahu adalah penjaga itu. Tapi ia sudah mati, jadi mau tidak mau mati samaan.

Apa yang penting dari cerita ini, kita tidak akan bisa melarikan diri dari kematian. Kalau sudah waktunya, pasti!. Oleh karena itu, mari kita sama-sama perbanyak selawat, saling memaafkan, saling cinta, saling sayang, dan kita selalu berharap syafaat Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana Rasul merindukan kita mari kita sama-sama merindukan Rasulallah SAW. Supaya kita bertemu dengan beliau bersalamaan dengan beliau, mencium tangan beliau dan meminum sekali minum dari tangan beliau tidak akan haus selama-lamanya. Bahkan kita akan masuk bersama beliau ke surga Allah SWT. Mari kita bersama-sama istiqomah membaca selawat dan istiqomah menjaga shalat, makmurkan masjid sebagaimana ramainya di majlis taklim dan majlis maulid ramai juga di masjid-masjid kita. Makmurkan masjid dan rumah Allah di mana-mana maka Allah akan berkenan mengundang kita di rumahnya yang terbesar masjidil Haram.

“Cintalah masjid Allah di mana-mana maka Allah akan membawa kita ke masjid-Nya yang terbesar Masjidil Haram. Segala sesuatu mungkin oleh Allah, kun fayakun. Pecaya dan berupaya mendekatkan diri kepada Allah dengan cara yang luar biasa. Allah memberikan kehidupan bahagia selamat luar biasa di dunia dan di akhirat,” seru Syeikh Ali Jaber sebelum menutup tausyiahnya dengan memimpin berdoa.

Sekilas Tentang Syeikh Ali Saleh Muhammad Ali Jaber

Syeikh Ali Jaber, demikian sapaan akrabnya, dikenal di Indonesia melalui program Damai Indonesiaku yang disiarkan TVOne. Beliau dilahirkan di Kota Suci Madinah Al-Muna­warah pada 3 Shafar 1396 H, bertepatan dengan 3 Februari 1976. Sejak kecil Ali Jaber telah menekuni membaca AlQuran. Ayahandanyalah yang awalnya memotivasi Ali Jaber untuk belajar AlQuran.

Se­bagai anak pertama dari dua belas ber­saudara, Ali Jaber dituntut untuk mene­ruskan perjuangan ayahnya dalam syiar Islam. Hingga pada usia yang sangat muda sekitar sepuluh tahun, ia telah hafal 30 Juz AlQur`an.  Beliau juga sejak usia 12 tahun sudah diamanahkan menjadi imam masjid di Madinah. Beliau Mendalami ilmu agama kepada para ulama terkemuka di kota Madinah dan luar Madinah (+200 ulama) di antaranya Syeikh Muhammad Ramadhan (Ketua Majelis Tahfidz Masjid Nabawi), Syekh Said Adam (Ketua Pengurus Makam Rasulullah SAW) dan Syeikh Abdul Bari’as Subaity (Imam Masjid Nabawi, sebelumnya Imam Masjidil Haram). Selama di kota Madinah beliau aktif sebagai Guru Tahfidz Qur’an di Masjid Nabawi dan Imam Sholat di salah satu masjid kota Madinah.

Tahun 2008, ia melebarkan sayap dakwahnya hingga ke Indonesia. Kebe­tulan ia menikahi seorang gadis shalihah asli Lombok, bernama Umi Nadia, yang lama tinggal di Madinah dan telah memiliki 1 anak bernama Hasan. Demi menunjang komuni­kasinya dalam berdakwah, ia pun mulai belajar bahasa Indonesia.

Sebagai seorang hafizh, Syeikh Ali memang begitu meng­inginkan agar banyak di antara umat Islam Indonesia juga dapat hafal Alquran. Ia ingin menjadi khadimul Quran, pelayan AlQuran, yang meng­abdikan dirinya untuk mengajarkan AlQuran. Tahun 2009-2010 ia pernah menda­tangkan keluarganya untuk membantu program menghafal AlQuran di Indo­nesia. Kesebelas adiknya, baik yang laki-laki maupun perempuan, juga hafal AlQuran. Semangat Syeikh Ali Jaber  adalah meneruskan dakwah para pendahulu, ia datang langsung dari tanah Arab untuk mendakwahkan Islam dan menetap di bumi Nusantara. Selain itu, Beliau juga sering diundang oleh pemerintah Malaysia dan kerajaan Brunei Darussalam.

Sebuah cerita menarik sebagai seorang Guru Tahfiz Al-Qur`an. Pernah salah satu peserta didik beliau seorang nenek berusia 76 tahun. Si nenek tak bisa membaca AlQur`an. Namun karena kesungguhannya, Subhanallah, dalam waktu sembilan bulan nenek tersebut telah hafal AlQur`an. (Muhammad Busyairi) - (01)



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan