logoblog

Cari

Tutup Iklan

Banjir di Mataram

Banjir di Mataram

  Sampai langit gelap, saya masih berada di kantor menuntaskan pekerjaan akhir tahun. Di luar desah hujan menjebak, sampai bergelas-gelas kopi kopi

Peristiwa

KM. Abiantubuh
Oleh KM. Abiantubuh
15 Desember, 2016 08:05:46
Peristiwa
Komentar: 0
Dibaca: 4505 Kali

 

Sampai langit gelap, saya masih berada di kantor menuntaskan pekerjaan akhir tahun. Di luar desah hujan menjebak, sampai bergelas-gelas kopi kopi tuntas diseruput. Media sosial dipenuhi poto-poto genangan air di hampir seluruh sudut kota. Kawan yang rumahnya berada di pinggir jalan Abiantubuh Baru, mengaplot poto rumahnya yang dilewati air deras seperti sungai, dan menulis caption, “ seumur hidup tumben banjir seperti ini, masuk ke pekarangan lewat kali sebelah”.  Saya gelisah, jangan-jangan rumah saya juga terendam banjir, sebab tempat tinggal saya berada tak jauh dari lokasi poto yang diupload

 

Setelah menuntaskan seruput terakhir, saya memaksa pulang menembus rintik gerimis. Meluncur dengan kecepatan tinggi meskipun jalanan licin. Banjir memang terjadi di mana-mana. Jalanan macet panjang di jalan Prabu rangkasari. Tak ada aparat pengatur lalu lintas. Mestinya mereka hadir megurai kemacetan panjang akibat luapan air yang menggenangi badan jalan. Orang-orang yang ingin cepat sampai dirumah, menerobos jalan dan menambah parah kemacetan.

Di saat begitu, menggunakan motor lebih menguntungkan, karena dengan kendaraan yang mungil kita bisa menerobos dan memanfaatkan celah-celah mobil yang berada dalam kemacetan. Rupanya kemacetan disebabkan oleh mereka yang berhenti di simpang empat Abiantubuh. Jalan lalu Mesir, tak bisa dilewati . Mereka yang menuju ke arah Babakan harus mencari jalan lain, atau diam menunggu air surut (mungkin sampai larut malam ). Terlihat banyak orang menuntun motornya yang mati karena mesin motornya kemasukan air.

 

Baca Juga :


Saya mengambil jalan pintas untuk sampai ke rumah. Masyaallah, Jalan senopati V yang setiap hari saya lewati  sudah berubah menjadi kali yang deras.  Penduduk keluar ke jalan. Saling bertanya keadaan di rumah masing masing.  Dari pengeras suara masjid, terdengar hibauan dan informasi bahwa air sungai semakin meluap. Para penduduk di minta untuk mematikan aliran listrik dan menaikan kabel yang terendam air jika ada aliran listrik.

Penduduk yang berada dialiran air besegera menutupi pintu-pintu rumahnya dengan tanah dan pasir yang dikarung. Agaknya air yang datang dari arah hulu semakin malam semakin menderas. Anak-anak muda menjebol beberapa beton permanen yang dianggap menghalangi aliran air. Banjir yang melanda kota Mataram saat ini, termasuk banjir.

Siapa yang salah, semua sudah terjadi. Saya hanya bisa memandangi kerumunan orang-orang yang menggigil kedinginan. Ada yang saling membantu  keluar dari rumahnya mengevakuasi barang-barangnya ke tempat yang lebih tinggi karena kamar paling privat pun turut dijamah oleh hujan yang enggan berhenti.  [] - 05



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan