logoblog

Cari

Dengan Data, Basuki Kalahkan Sri Mulyani

Dengan Data, Basuki Kalahkan Sri Mulyani

Tekad dan semangat Akademisi Unram ini menjadi inspirasi bagi kita generasi muda di era informasi atau data ini. Betapa tidak DR.

Peristiwa

EDY IRFAN
Oleh EDY IRFAN
29 September, 2017 21:40:52
Peristiwa
Komentar: 0
Dibaca: 12329 Kali

Tekad dan semangat Akademisi Unram ini menjadi inspirasi bagi generasi muda. DR. Basuki Prayitno, dosen pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram jurusan Ekonomi Pembangunan (IESP) ini memaparkan tentang pengalamannya memanfaatkan data. Bagaimana Doktor ini bersama Timnya memenangkan gugatan di Mahkamah Konstitusi dengan mengalahkan Sri Mulyani Menteri Keuangan di Era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Saat acara Talk Show BPS Propinsi NTB (26/9), Basuki juga menceritakan pengalamannya memanfaatkan data disetiap ahir masa jabatan Gubernur NTB. Menurutnya, ia selalu akan dibuang ketika pilgub usai sebab calon yang diusungnya kalah. Namun beberapa bulan kemudian ia selalu dipanggil kembali oleh gubernur terpilih untuk mengupas tentang masalah data. "Kemudian saya mempresentasi dan memaparkan data hasil-hasil pembangunan dan apa yang harus dilakukan kedepan”, ujarnya.

"Kalau ia tidak punya data apa yang harus diberikan atau dipaparkan ketika di panggil oleh Gubernur. Itulah betapa pentingnya data memainkan perannya dalam kehidupan ini." Lanjutnya

Namun peran BPS dalam menyediakan data itu luar biasa. Respon BPS ketika ia meminta data begitu luar biasa membantu. Bahkan karena selalu berhubungan dengan data ia ikut dalam Ikatan Statistika Indonesia (ISI) dan menjabat sebagai Ketua Penelitian dan Pengembangan (Litbang).

Berbicara masalah data, Basuki pernah di panggil Gubernur Nusa Tenggara Barat, TGB. Zainul Majdi, untuk memaparkan masalah data, saat itu ia bingung, ide apa yang akan dipaparkan didepan Gubernur saat itu. "Setelah melakukan analisa dan pengamatan akhirnya muncul ide tentang cukai tembakau,” Kata Basuki.

Menurut data, Petani tembakau kita tidak pernah makmur, angka kemiskinan didesa tinggi, harga tembakau gak pernah bagus dan sebagainya, akhirnya ia mencoba membuat kajian dengan data yang ada untuk melawan pemerintah pusat di mahkamah konstitusi untuk mengamandemen dan melakukan judical rivew undang-undang tentang cukai tembakau tahun 2009.

Bersama timnya, Basuki maju ke Mahkamah Konstitusi (MK) dengan tekad dan modal data. “Yang kami lawan bukan main-main, yang kami lawan menteri keuangan terbaik Asia saat itu yang namanya Sri Mulyani. Saat itu tidak ada yang berani melawan Menteri Keuangan Era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini. Saat itu Sri Mulyani sedang top-topnya, Namun tekad kami untuk mensejahterakan petani tembaku di NTB begitu kuat, kemudian yang menjadi pertanyaan besar kami adalah kenapa NTB ini tidak mendapatkan cukai tembakau padahal petani tembau banyak di Pulau Lombok.  Padahal namanya undang-undang cukai tembakau, orang-orang yang menanam tembakau gak dapat cukai tembakau,” Tegas Basuki.

 

Baca Juga :


Berdasarkan data-data yang dikumpulkan, data-data dari BPS, dan data-data dari pemerintah pusat di Jakarta didapatkan bahwa kerugian akibat tidak mendapatkan cukai tembakau bagi petani tembakaui di NTB sekitar 350 Miliar Rupiah pertahun.

“Jadi data yang kami susun mampu menjelaskan logika berpikir kita, kemudian kita bisa berargumentasi, mengadu argumentasi. Saat sidang di MK Tim Sri Mulyani menyusun data dan Tim kami juga menyusun data untuk di ajukan dalam argument data di hadapan sidang yang dihadiri oleh delapan hakim MK. Sehingga Data-data yang kita ajukan menurut hakim adalah data yang benar dan mudah dipahami berdasarkan kenyataan ril dilapangan,” jelas Basuki dengan semangat.

Singkat cerita akhirnya Basuki memenangkan gugatan tersebut, dengan demikian saat ini NTB mendapatkan 350 Miliar Rupih pertahun.

Itu adalah arti penting dari sebuah data, harus mampu meyakinkan orang, kemudian memberikan kemudahan agar orang bisa tau apa maksud kita. Data itu bisa kita bahasakan dengan Fals, bisa juga data-data ini kita nyaringkan tergantung kondisi dan kebutuhan akan data tersebut.

Data juga dapat berfungsi sebagai pengambil keputusan atau kebijakan.  Dapat dipergunakan untuk mengevaluasi terhadap sesuatu yang telah kita putuskan. (Edy/Angga)



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan