logoblog

Cari

Tutup Iklan

Sultan Bangun Gereja

Sultan Bangun Gereja

Memasuki paruh abad 20 di tanah Bima mulai mengalami perkembangan dan kemajuan dalam hal tata kehidupan modern pemerintahan. Sekolah, Rumah Sakit,

Peristiwa

Fahrurizki
Oleh Fahrurizki
16 Oktober, 2017 10:29:29
Peristiwa
Komentar: 0
Dibaca: 6194 Kali

Memasuki paruh abad 20, di tanah Bima mulai mengalami perkembangan dan kemajuan dalam hal tata kehidupan modern pemerintahan. Sekolah, Rumah Sakit, fasilitas telpon dan listrik mulai masuk yang di mana semua berpusat di Kota Raba. Seluruh perkantoran pemerintahan Hindia Belanda untuk wilayah kepulauan sunda kecil dipusatkan di Pulau Sumbawa yaitu Raba-Bima.

Perkembangan Bima ke arah kota Modern mulai berkembang pesat di tahun 1920, lalu diangkatnya Abdul Hamid sebagai Raja Bicara yang mempunyai visi membangun Bima ke arah moderat mengikuti perkembangan Hindia yang disesuaikan dengan tradisi lokal dan agama. Pembangunan pusat perkantoran Hindia Belanda di Raba sejak abad 18 dibangun semua di atas tanah kesultanan.

Melihat perkembangan kota Raba yang semakin banyak dihuni oleh kaum bangsa Eropa yang datang untuk bekerja atau berbisnis. Semakin banyak kegiatan dan aktivitas para guru sekolah serta para perawat dan dokter mengharuskan juga pemerintah kesultanan Bima mendukung kegiatan mereka dalam menjalankan agama mereka yang tentu sangat berbeda dengan ideologi agama kesultanan.

Ketika penulis menemui KH Gani Maskur salah satu tokoh tertua Bima yang masih hidup hingga sekarang menceritakan bagaimana pedulinya Sultan Bima dan Raja Bicara dalam menghormati aktifitas keagamaan kaum bangsa Eropa di Bima. “Untuk menopang kebutuhan rohani mereka, Sultan dan Raja Bicara membangunkan mereka satu gereja, untuk tempat beribadah kaum bangsa Eropa, Gereja tersebut di beri nama Bethel”. Kata KH Gani Maskur di rumahnya (10/8/2017).

Aktifitas keagamaan di Bima sangat dijaga dan di hormati, Bima yang di kenal sebagai pusat Islam di kepulauan sunda kecil sangat menjaga hubungan baik denga agama lain. Ideologi Islam yang sudah menjadi bagian Bima sejak tahun 1640 merupakan jiwa dari orang Bima. Tak hanya agama Kristen yang bisa membangun tempat ibadah, agama lain juga di ijinkan untuk membangun tempat ibadah, asal tetap menjaga dan menghormati agama orang Bima, tambah KH Gani Maskur.

Yunus Raepunya (48) seorang guru SMP 8 Negeri Kota Bima yang sudah sejak lama tinggal di sekitar gereja hingga mengetahui sejarah gereja, dia menjelaskan kepada penulis (4/10/2017) bahwa bagaimana sejarah pembangunan Gereja Bethel atau lebih dikenal dengan nama Gereja Tua. Menurut Pak Yunus, gereja di bangun atas pemberian tanah wakaf oleh Sultan, mulai di bangun sekitaran tahun 1930. Memadukan gaya arsitektur eropa dan local yang tampak terlihat pada menara depan gereja berbentuk ‘Manggusu Waru’ seperti halnya menara Masjid Sultan di kampung Sigi, memadukan kearifan local dan modern oleh arsiteknya seorang Indo-Belanda.

 

Baca Juga :


Gereja Bethel, selain dikenal dengan nama Gereja Tua, juga dikenal dengan nama Gereja Ayam, di mana pada puncak menara terdapat seekor ayam yang merupakan symbol penyangkalan Petrus kepada Yesus. Gereja Bethel adalah gereja Protestan juga merupakan sebagai gereja pertama di Pulau Sumbawa yang di bangun. Memasuki tahun 1980-an gereja direnovasi dipasang tehel dan menggantikan sirapnya dengan seng, namun bentuk asli dari menara tetap dipertahankan seperti sedia kala untuk menghormati kearifan lokal Bima, kata Pak Yunus.

Selama awal mulai di bangun hingga kini hubungan pihak gereja dengan masyarakat sekitarnya tetap baik, seperti di tahun 1970-an ketika terjadi peristiwa kulit Babi yang di mana kulit babi diletakkan pada Masjid Rabangodu. Saat itu suasana mencekam namun Gereja tetap aman dan tidak di ganggu, kisah pak Yunus yang sejak peristiwa itu dia duduk dibangku SMP. 

Gereja tua yang terletak di jalan Semangka Rabangodu Selatan ini juga merupakan simbol keberagaman agama di Bima yang berjalan dengan baik sejak dulu hingga sekarang didasari saling menghormati. Nama gereja Bethel sendiri yang berarti ‘Rumah Allah’. Perpaduan kearifan lokal dengan gaya eropa tetap di jaga oleh pihak pengururs gereja, bangunan peribadatan umat Protestan yang berdiri sudah 87 tahun ini menjadi bagian sejarah Bima dan saksi saling menghormati antar umat beragama di Dana Mbojo.   

Peserta Anugerah Jurnalisme Warga 2017



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan