logoblog

Cari

Tutup Iklan

Merindu Politik Perdamaian

Merindu Politik Perdamaian

Opini Publik yang di hembuskan Media-Media nasional dan media-media jejaring social seperti jatuhnya hujan dari langit begitu banyak dan intens hampir

Peristiwa

Chairil Anwar
Oleh Chairil Anwar
08 Januari, 2018 13:31:27
Peristiwa
Komentar: 0
Dibaca: 2495 Kali

Opini Publik yang di hembuskan Media-Media nasional dan media-media jejaring social seperti jatuhnya hujan dari langit begitu banyak dan intens hampir tak ada celah kosong untuk bisa berteduh dalam suasana yang sangat gaduh, dimulai dari soal-soal agama ,Etnosentrisme,hingga Skandal Pelecehan Suami Istri .tumbuh seperti bijian yang tersiram hujan semalaman, tumbuh liar menjalar dan melilit seluruh lini sosio cultural masyarakat, perebutan kursi social kekuasaan yang menjadi incaran seperti sepotong pohon kering yang meranggas di terpa terik panas kemudian terseduh oleh sentuhan kepentingan mobilisasi, mengakibatkan seluruh eksistensinya melapuk, disisi yang lain kacang yang tumbuh dari bebijian mencari sandaran untuk bisa menuju sinar matahari yang cukup atau setidaknya memilih massif dengan menjelajah seluruh permukaan dengan saling melemahkan satu dengan yang lainnya.

Perseteruan antara suku-suku bangsa yang sejatinya adalah pelegalan legalitas dagang antara pendatang Pribumi Asli telah berkamuflase membentuk sebuah Koloni yang saling mendominasi membentuk inperium-imperium kecil yang bernama berhala pembenaran hak untuk berkembang dibawah payung HAM, dan siraman Air suci kemanusiaan bertunasan seumpama cendawan yang tumbuh dalam badai yang ribut,gelap,kelam dan kacau, belum Hilang dalam ingtan beberapa tahun yang lalu badai yang sama terjadi sehingga muncullah sebuah cahaya bernama Toleransi yang menerangi bangsa Indonesia dengan ayat-ayat kebhinekaan, kenyataannya tidak bisa bertahan lebih lama sebab datangnya bukan dari sebuah kitab suci melainkan dari sebuah kudeta politik yang dipagari oleh bayang-bayang kediktatoran penyelewengan kekuasaan.

Tumbangnya pohon besar setelah Diamuk Figur Gubernur yang sarat prestasi tak kunjung mampu memberikan udara segar bagi demokrasi bangsa yang katanya seperti surga ini, lantas para prajurit dan punggawa kerajaan yang berlindung dalam dinding tebal dan kokoh bernama Budaya ketimuran pun tak mampu menolak dentuman peluru yang ditembakkan oleh pasukan rela mati yang bernama modernisasi dan persaingan pasar bebas yang berketerusan membombardir pertahanannya. hingga pagar betis harus pula di korbankan seperti pri bumi dan Pendatang Menjadi Barang dagangan, harus rela memilih Diam Menunggu atau harus menjadi Pemain tandingan diatas gaduh irama politik???????.

Sejarah pasti berulang dan korban harus bertumbangan, di NTB terkenal dengan Pluralisme Harus berani berbuat dan member ruang bebas kepada siapapun untuk berkompetisi meski harus sadar dan rela menerima resiko kalah dan menang karena inilah proses demokrasi.

Kehadiran Fajar demokrasi seperti yang di katakan soerjono dalam bukunya Fajar Kebangkitan dilombok dan Politik tuan guru Bajang begitu lekat dan kuat seumpama magnet yang menarik partikel-partikel disekelilingnya untuk bersatupadu mengubah janji-janji menjadi harapan dan lompatan-lompatan seperti yang dikatakan dalam Dua tahun TGB-Amin adalah barometer yang mesti dan nyata dalam wujud materi semoga Lombok Sumbawa, NTB umumnya tetap dalam kebhinekaan di tangan yang maha kuasa.

 

Baca Juga :


Sebagai Masyarakat kelas akar rumput terkadang saya sering pesimis dan terkadang berfikir sendiri tentang harapan-harapan kemajemukan dalam bingkai Negara kesatuan RI akankan harapan itu ada sebagai mana ungkapan baik dari soerjono tentang fajar kebangkitan Demokrasi ,

Januari 2018 Marbot online []

 



 
Chairil Anwar

Chairil Anwar

Menjadi tua adalah sebuah kebiasaan, sedangkan menjadi dewasa adalah sebuah pilihan, dari KMKrens untuk NTB yang berdaya saing. HP 087763256047

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan