logoblog

Cari

Tutup Iklan

Literasi Digital: Upaya Mencegah Paham Radikalisme di NTB

Literasi Digital: Upaya Mencegah Paham Radikalisme di NTB

Upaya mencegah dan menangkal paham radikalisme serta terorisme di Provinsi NTB,  Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Prov NTB menggelar kegiatan dengan

Peristiwa

Suparman
Oleh Suparman
28 Maret, 2018 14:45:57
Peristiwa
Komentar: 0
Dibaca: 18615 Kali

Berbagai macam aksi terorisme, pembunuhan terhadap aparat kepolisian dan penangkapan terduga teroris oleh anggota Densus 88 yang terjadi di NTB beberapa tahun silam, khususnya Kabupaten Bima dan Dompu, telah meresahkan masyarakat.

Untuk itulah, sebagai salah satu upaya mencegah dan menangkal paham radikalisme serta terorisme di Provinsi NTB,  Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Prov NTB menggelar kegiatan dengan tema 'Literasi Digital Sebagai Upaya Pencegahan Radikalisme dan Terorisme di Masyarakat melalui FKPT NTB'. Kegiatan ini berlangsung di di Hotel Aruna Senggigi, Rabu (20/03).

Hadir dalam acara tersebut kepala Diskominfotik NTB, Drs.Tri Budipraytno, M.Si dan Organisasi Kemahasiswaan dan Pemuda (OKP) se- NTB.  

Ketua FKPT Provinsi NTB, Drs. H. Lalu Syafi'i, MM mengatakan bahwa ke depannya FKPT akan terus meningkatkan pengawasan dan pencegahan terhadap paham radikalisme yang tersebar di NTB.

"Insya Allah, kita akan mengawal dan menjaga NKRI ini dari paham radikalisme dengan berbagai macam tantangan," tegasnya.

Dalam kegiatan tersebut, terdapat tiga narasumber  yang menyampaikan materi terkait dengan upaya pencegahan paham radikalisme yakni, H. Bochri Rachman--pensiunan RRI NTB,  Ratna Kumala--Dewan Pers, dan Kurnia Widodo, ST--mantan penganut paham radikalisme.  

Kurnia adalah salah satu narasumber yang pernah terlibat dalam pembuatan bahan-bahan peledak untuk aksi terorisme. Setelah beberapa tahun membantu aksi terorisme, ia bertaubat dan menceritakan semua seluk-beluk aksi terorisme yang menggunakan bahan peledak, mulai  dari kasus bom Bali hingga kasus Tamrin.

 

Baca Juga :


Dalam kesempatannya, Kurnia juga menjelaskan beberapa paham radikalisme diantaranya: paham yang mengatakan bahwa semua orang yang terlibat dengan pemerintahan adalah kafir, TNI/POLRI adalah penolong kafir (ansorut thogut) dan masih banyak ideolagi-ideologi yang mencengangkan.

"Paham radikalisme megatakan, bahwa semua yang disebutkan di atas, halal darahnya untuk dibunuh dan dirampas hartanya," jelas Kurnia.

Narasumber berikutnya, H. Bochri Rachman mengatakan bahwa penyebaran paham radikalisme dan aksi terorisme di Indonesia, 90 persen melalui sosial media.

"Koordinasi yang dilakukan untuk merekrut anggota baru di sosial media sangat mudah," tegasnya.

Sementara itu, Ratna Kumala sebagai narasumber dari dewan pers menyampaikan pentingnya bijak dalam bermedia sosial.  Masyarakat tidak cukup hanya dengan memblokir atau mematikan akses media bermuatan radikalisme dan terorisme, kebijakan deradikalisasi dunia maya sebagai upaya melawan sebuah ideologi dan propaganda dari kelompok radikalisme.

"Kita harus lawan dengan gerakan konten kreatif, edukasi dan perdamaian," tegasnya. (Man/Ihsan/Angga)



 
Suparman

Suparman

nama Suparman, biasa di panggil Man. lahir di desa O,o Kec. Dompu, Kab. Dompu pada Tanggal 12 Februari 1992. anak pertama dari enam saudara. saya lahir dari pasangan Bapak A. Talib dengan Ny. Uniriyah. No HP 085337689025

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan