logoblog

Cari

"Bazar" Bersekat di Malam Ramadhan

Bazar. Mendengar kata bazaar mungkin langsung terlintas di benak saudara tentang pegelaran dagangan atau obral barang-barang yang di jual. Ya… tentu

Peristiwa

Ali Marwansyah
Oleh Ali Marwansyah
07 Juni, 2018 09:04:28
Peristiwa
Komentar: 0
Dibaca: 13532 Kali

Bazar. Mendengar kata bazaar mungkin langsung terlintas di benak saudara tentang pegelaran dagangan atau obral barang-barang yang di jual. Ya… tentu saja itu bukan hal yang salah, karena memang bazaar adalah sebutan untuk hal demikian. Namun kali ini, saya menulis dalam tanda kutip. kata “Bazar” yang dimaksud di sini bukanlah bazaar pegelaran barang dagangan untuk dijual, melainkan ini adalah sebuah istilah yang dipelesetkan. Dan ‘Bazar’ ini biasanya adalah momen yang biasanya ada di bulan ramadhan. Pada kali ini, saya akan berbagi pengalaman atas hasil observasi saya terkait bazaar dalam tanda kutip ini.

Pada artikel ini, saya akan menceritakan sedikit tentang “Bazar’ ini. Istilah “Bazar’ ini sering sekali saya dengar sejak saya kecil, waktu itu sekitar tahun 90-an, istilah “Bazar atau Ngebazarin” sering saya dengar dari mereka- mereka yang lebih tua dari saya, yaa bisa dikatakan anak muda pada zaman saya masih duduk di sekolah dasar. Dan sekarang usia saya sudah memasuki 28 Tahun, istilah “Bazar atau Ngebazarin” masih terdengar. Dan kali ini cerita langsung tentang Bazar ini saya dengar dari rekan kerja saya. Cerita yang saya dengar tentang bazaar ini cukup membuat saya tertarik dan penasaran tentangnya untuk melakukan obeservasi dan sebagai bahan untuk membuat tulisan ini.

Setelah mendengar cerita dari teman, dan saya pun tertarik untuk mengajaknya kembali ke lokasi bazaar tersebut, dan kami pun mengatur waktu untuk berkunjung ke lokasi bazaar tersebut. Ba’da Shalat Taraweh sekitar Pukul 21.30, 21 ramadhan 1439 H, kami berangkat menuju lokasi bazaar yang berada di kelurahan perbatasan kota mataram. Lokasinya sekitar 10 menit menggunkan motor dari desa saya. Sebelum berdiam di lokasi bazaar yang di maksud, kami mencoba melakukan penelusuran disepanjang jalan yang langsung berbatsan dengan pantai sebalah baratnya. Dan,,, ternyata ada banyak deretan bazaar yang kami temui. Saya pun ditunjukkan oleh teman saya, mana saja bazaar yang dimaksud. Dengan ciri, ada meja kecil dengan rentengan snack dan kopi sachet  bergantung serta ada ruang bersekat-sekat seukuran 1,5  - 2 meter yang disekat dengan spanduk/kain-kain bekas, dan didepannya berdiri kembang warungnya / kembang bazarnya, entah apa sebutan bagi mereka, tapi sebut saja mereka kembang warung bazaar. Yang dalam satu bazaar bisa terdiri dari 4 perempuan. Setelah melakukan penelusuran dan kembali putar arah, kami memasuki satu lokasi bazaar, yang jaraknya cukup menyendiri dari deretan bazaar lainnya.

Setelah memasuki lahan untuk parkir motor. Sontak saja ada 2 perempuan ABG dengan dandanan cukup menor menurut saya, yang satu dengan bedak dan lipstick yang cukup tebal dengan pakaian minim (rok pendek) dan satunya lagi dengan celana panjang dan cukup ketat datang menghapiri kami. Dan langsung menyapa dan mempersilahkan tempat duduk pada kami pada sekat yang sudah disedikan. Dan setelah berdiskusi dengan teman (karena ini kali pertama jadi ada rasa was-was sih sebenarnya mengunjungi tempat ini) akhirnya kami bertiga duduk pada sekat yang tidak terlalu tertutup. Tempat ini bisa dikatakan remang-remang, karena minim cahaya, yang ada hanya cahaya lampu hias kecil warna warni yang bergantung diatas sekat-sekat tersebut. Sekat – sekat ini dibuat dengan membentangkan kain/spanduk bekas dengan bamboo atau pohon sebagi tiangnya, yang tingginya sekitar 1 meter. Setelah duduk kamipun ditawarkan “mau pesan apa?” dan tentunya kami pesan kopi dan kacang-kacangan, tak lama kemudian pesanan kami datang, kopi 3 gelas dan kacang dan kuaci 1 piring.

Dan SATU perempuan yang  tidak terlalu cantik menemani kami. Percakapan pun dimulai dengan memperkenalkan diri, dia memperkenalkan dirinya kepada kami. Ngobrol panjang lebar, berbagi pengalaman, bercanda, tapi letak kurang baiknya sih menurut saya adalah ada kata-kata 17 tahun keatas (adult content) yang dipelesetkan jadi sebuah candaan. Dan mereka Si kembang warung tersebut menikmati pembicaaarn seperti ini. Mungkin ini adalah salah satu marketing mereka yang mereka anggap omongan seperti itu pasti disukai tamu (pengunjung). 1 jam, 2 jam, 3 jam berlalu, hanya ngobrol, ngopi, merokok. Ditemani perempuan untuk ngobrol. Itu yang saya temui di tempat itu.

Sesekali saya perhatikan pengunjung yang datang, kebanyakan dari mereka adalah anak-anak usia remaja dan muda. Yang dilakukanpun sama, ngobrol, ngopi, merokok dengan ditemani 1 atau 2 orang perempuan kembang warungnya.

 

Baca Juga :


Selama duduk di sana, saya terus memperhatikan, di mana letak cerita negative tentang bazaar ini yang pernah saya dengar sebelumnya. Menurut seliweran cerita yang saya dengar selama ini, bazaar ini perempuan yang menjadi kembang warungnya akan bertindak sedikit nyeleneh seperti duduk dipangkuan pengunjung (oh iya semua pengunjungnya pasti lelaki), dan bisa di pegang pegang gitu sih katanya. Tapi meungkin tergantung pengunjungnya juga kali ya, kurang ajar atau tidak. Tapi.. hal demikian tidak saya temui di bazaar in

 mungkin memang benar tergantung sikap pengunjungnya dan mereka harus memberikan feedback atau service, tapi bukan sampai melakukan yang ekstrem lah, paling sekedang pegang-pegang aja kali ya. Wallahu’alam.

Selama duduk di sana, saya dan teman mempertanyakan beberapa hal terkait keberadaan bazaar trsebut langsung pada perempuan yang menemani kami. Diantaranya: Status perempuan yang menjadi kembang bazaar tersebut, pandangan tokoh masyarakat dengan keberadaan bazaar tersebut, penghasilan yang mereka dapatnkan, jam operasional. Dan berikut saya jabarkan jawabannya. Perempuan yang menjadi pedagang/kembang bazaar tersebut ada yang sudah menikah, ada yang janda dan ada yang masih single atau ABG, mereka membuka bazaar ini murni untuk mencari penghasilan/uang untuk keperluan lebaran, keberadaan mereka yang membuka bazaar di kalangan masyarakat ada yang mendukung ada juga yang membiarkan dengan ketentuan yang sudah diatur oleh kepala lingkungan mereka, misalnya tidak boleh ada yang minum minuman keras, tidak boleh lebih dari jam 12 malam, tapi kadang ada juga aturan yang dilanggar seperti jam opersional yang melebihi dari ketentuan kepala lingkungan. Penghasilan yang mereka dapat menurut saya cukup fantastis kalau dilihat dari jumlah pengunjung yang datang dan dengan harga/tariff makanan yang mereka jual. Tapi menurut saya mereka tidak menjual makanan, tapi mereka menjual jasa, jasa bagi lelaki untuk ditemani ngobrol sambil ngopi, merokok dan makan snack ringan yag mereka sediakan. Wah… Bayarannya cukup menguras dompet kalau ditanya biasanya dikasi berapa sama pengunjung jawabannya 200, 250 bangkan ada yang sampai ngasi 500, tapi kayaknya ini juga menurut saya strategi biar rate mereka naik sehingga pengunjung juga tentunya akan mikir-mikir utk ngasi dibawah itu. Jadi sebaiknya kalo berkunjung ke bazaar ini jangan nanyak berapa harga semuanya, yan pasti merka sebut banyak. Ya… kalo mau ngasi-ngasi seikhlasnya tergantung gengsi. Hahaha…. Dan tentunya disini tidak ada system uang kembalian.

Tapi berdasarkan pengamatan saya, miris, Kenapa? Pertama, ini kan bulan ramadhan, pedagang/kembang bazarnya pakainnya minim-minim, terus ada dua suara yang bentrok, di sana terdengar suara orang tadarusan dan dibazar ini terdengar suara music-musik dj/dangdung/pop yang diputar melakui salon audio. Yaaaah…. Tapi apa mau dikata. Di sebagian tempat ini masih menjadi tradisi moment yang masih ada sampai sekarang, dan sebagai ladang mencari penghasilan bagi perempuan-perempuan tersebut. Tapi ini Cuma sebatas itu saja sih, tidak sampai melakukan tindakan asusila. Wallahua’lam.



 
Ali Marwansyah

Ali Marwansyah

Alamat: Desa Meninting, Dusun Montong Buwuh, Kecamatan Batulayar. Passion: Jurnalis Freelance Hp/WA: 085205964220 email: ali.marwansyah@gmail.com

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan