logoblog

Cari

Gempa Lombok, Bangun Spirit Kebersamaan

Gempa Lombok, Bangun Spirit Kebersamaan

Pasca gempa yang terjadi di Lombok, gerakan-gerakan spontanitas yang terorganisir maupun tidak, dari seluruh elemen bangsa Indonesia. Getaran-getaran jiwa kebersamaan, rasa

Peristiwa

Suparman
Oleh Suparman
19 Agustus, 2018 13:53:25
Peristiwa
Komentar: 0
Dibaca: 4063 Kali

Pasca gempa yang terjadi di Lombok, gerakan-gerakan spontanitas yang terorganisir maupun tidak, dari seluruh elemen bangsa Indonesia. Getaran-getaran jiwa kebersamaan, rasa empati sangat terasa dari komponen masyarakat yang menyalurkan bantuan kepada korban bencana gempa Lombok.

“Musibah ini menjadi spirit baru untuk membangun rasa persatuan dan rasa kebersamaan bahwa yang dilihat bukan siapa yang meninggal, siapa yang sengsara. Akan tetapi semua didasari atas dasar empati kemanusiaan untuk membantu sesama,” ungkap Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Drs. H Laili Syafi’i, MM saat konferensi pers di posko Media Center, Sabtu (18/08).

Dalam pengamatan Kesbangpol NTB mengakui bahwa kelompok masyarakat, komunitas dan seluruh lembaga pemerintah maupun sewasta yang memberikan bantuan, memiliki rasa persaudaraan dan kebangsaan yang dikedepankan “bahwa kita sama, kita adalah saudara dari manapun dia berasal, dan itu sangat dirasakan betul bahwa korban meruapakan bagian dari saudara mereka,” jelas Laili.

Kesbangpol NTB juga mengundang seluruh pimpinan-pimpinan etnis yang dibina di dalam Forum Komunikasi Etnis Kesbangpol untuk bersama-sama membangun empati terhadap musibah yang terjadi.

“Melalui pimpinan masih-masih tokoh maupun etnis di NTB, bergerak cepat untuk mengumpulkan bantuan kemudian turun ke lokasi dan melaporkan ke kami apa yang sudah dilakukan,” tutur Laili.

Ia juga mengatakan bahwa masyarakat yang tertimpa musibah, ada rasa keihklasan menerima ini sebagai ujian. Sehingga Presiden Jokowi sendiri terkesan dengan kesabaaran dan keikhlasan masyarakat Lombok dalam menghadapi bencana ini.

“Dalam catatan kami, pasca gempa yang terjadi tidak ada demonstrasi atau geraka-gerakan masa yang merasa tidak diperhatikan dan mereka sudah terlayani dengan baik. Walaupun mereka sebenarnya berada dalam tekanan akibat bencana,” tegas Laili.

 

Baca Juga :


Kemudian yang sangat penting lanjut Laili, 17 Agustus sebagai momentum karena musibah ini tidak mengurangi rasa nasionalisme sebagai generasi bangsa. Karena di seluruh pengungsian di desa maupun pelosok mengikuti upacara detik-detik proklamasi. Moment ini menjadi sangat tersentuh bagi Kesbangpol, disaat masyarakat sangat antusias untuk mengikuti upacara proklamasi Indonesia walaupun di sekitar tenda pengungsian. (Man)

 

 

 



 
Suparman

Suparman

nama Suparman, biasa di panggil Man. lahir di desa O,o Kec. Dompu, Kab. Dompu pada Tanggal 12 Februari 1992. anak pertama dari enam saudara. saya lahir dari pasangan Bapak A. Talib dengan Ny. Uniriyah. No HP 085337689025

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan