logoblog

Cari

Tutup Iklan

Tangis Sofia "Ibu Sudah Di Surga"

Tangis Sofia

Sumbawa Barat. Diskominfo - Hari itu, matahari sudah condong ke barat. Jelang sore yang tenang, di sebuah tenda yang dipasang di

Peristiwa

Feryal Mukmin Pertama
Oleh Feryal Mukmin Pertama
13 September, 2018 08:37:26
Peristiwa
Komentar: 0
Dibaca: 5916 Kali

Sumbawa Barat. Diskominfo - Hari itu, matahari sudah condong ke barat. Jelang sore yang tenang, di sebuah tenda yang dipasang di halaman salah satu rumah di Desa Senayan Kecamatan Poto Tano, tiga pekan setelah gempa berkekuatan 6,9 sr mengguncang tanah Pariri Lema Bariri (12/9), dua orang anak duduk bersama seorang laki-laki paruh baya. Laki-laki itu tengah berbincang seakan memberi semangat kepada kedua anak tersebut.

Sekilas mereka tampak biasa saja, kalau saja orang-orang tidak melihat langsung ke arah mata mereka yang masih menyimpan luka akan peristiwa tragis yang takkan pernah bisa mereka lupakan. Tak lama seorang anak perempuan, Sofia, datang dan bercerita dengan suara pelan menahan tangis bahwa bencana itu telah merenggut nyawa sang Ibu tercinta, Sri Rahayu, S.Sos (35).

Saat gempa datang, Sofia dan adiknya bermain di ruang keluarga, sedangkan ibunya tengah menonton TV. Ayah mereka saat itu tidak berada dirumah. " Tiba-tiba terasa getaran keras mengguncang dengan hebat sehingga kami semua panik, saya langsung lari keluar kearah ruang tamu dan berusaha membuka kunci pintu, sementara adik-adik sama ibu." tutur Sofia menceritakan kisah pilunya.

Dikisahkan oleh Sofi, Ketika ibu dan adik-adiknya hendak menggapai pintu depan, saat itulah reruntuhan bangunan jatuh menimpa ibunya. "Kedua adik saya hampir terkena reruntuhan juga karena mereka berada dekat sekali dengan ibu, adik bungsu saya terkena sedikit benturan reruntuhan." Ungkapnya sambil memperlihatkan memar di pipi si bungsu.
Sofia menceritakan dengan jelas saat2 dia menyaksikan langsung peristiwa pilu yang merenggut nyawa ibunya. Ibunya yang berprofesi sebagai Guru di salah satu SMP Negeri di Kecamatan Seteluk itu langsung dievakuasi oleh warga dan dibawa ke Puskesma terdekat, namun nyawanya tak tertolong.

Kejadian itu membuat mereka sangat terpukul. Mencoba untuk bangkit dari kesedihan mendalam dan tetap semangat menjalani hari-hari mereka tanpa seorang ibu adalah suatu hal yang tak mudah. Kasih sayang seorang ibu tak bisa tergantikan oleh siapa pun. Sesekali dia mencoba untuk tersenyum walau terasa berat. Rasa kehilangan masih menggayuti anak-anak ini. Ketika ditanya cita-cita ketiga anak ini, si bungsu menjawab "ingin menjadi Guru seperti ibu" katanya tersipu malu.  Kejadian ini telah merubah seluruh hidup mereka, hidup dengan penuh keikhlasan akan takdir yang telah ditetapkan Allah adalah suatu keharusan. Sebagai kakak dari adik-adiknya, Sofi tetap berusaha tegar dan selalu optimis untuk menjalani hari-hari meniti masa depan mereka yang lebih baik.
"saya yakin, sekarang ibu sudah berada di Surga, dan ibu pasti senang karena melihat saya dan adik-adik tetap semangat" Ucap Sofi dengan mata berkaca-kaca.

Saat ini Sofi sedang duduk di  kelas III SMP di salah satu Pondok Pesantren di Gunung Sari Lombok Barat. Ia pulang kampung karena bangunan pondok tempatnya belajar mengalami rusak parah. Harapan untuk tetap semangat selalu ada, namun trauma yang mereka alami cukup berat. Sofi mengaku sangat trauma jika mendengar suara keras dan langsung ketakutan.

 

Baca Juga :


Saat ini Pemerintah Daerah Sumbawa Barat telah bekerja keras berupaya mempercepat rekonstruksi dan rehabilitasi bangunan yang rusak parah termasuk rumah Sofia, agar para korban yang masih di tenda-tenda pengungsian bisa cepat kembali ke rumah masing-masing. Diskominfo Sumbawa Barat/Feryal/tifa.

 



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan