logoblog

Cari

Launching Sekolah Perempuan La Rimpu

Launching Sekolah Perempuan La Rimpu

Kabupaten Bima – Tim pengabdi LP2M UIN Mataram bekerjasama dengan Alam Tara Institute mengadakan kegiatan Launching Sekolah Rintisan Perempuan untuk Perubahan

Peristiwa

Nurrosyidah Yusuf
Oleh Nurrosyidah Yusuf
26 September, 2018 15:21:36
Peristiwa
Komentar: 0
Dibaca: 11441 Kali

Kabupaten Bima – Tim pengabdi LP2M UIN Mataram bekerjasama dengan Alam Tara Institute mengadakan kegiatan Launching Sekolah Rintisan Perempuan untuk Perubahan yang diberi nama “La Rimpu” Renda – Ngali. La Rimpu merupakan singkatan dari ‘Sekolah Rintisan Perempuan untuk Perubahan’ itu sendiri. Kegiatan yang bertempat di MA Al Jihad Renda – Ngali di kecamatan Belo kabupaten Bima NTB diresmikan langsung oleh Bupati Bima juga dihadiri oleh Ketua GOW kabupaten Bima, Ketua Yayasan Pendidikan Al Jihad Bima  yang diwakili oleh Muslihah S.Pd.

Kegiatan diadakan selama 2 hari, yakni Sabtu (24/08) dan Minggu (25/08/2018),  diikuti oleh 25 orang peserta, terdiri dari 13 orang dari desa Ngali dan 12 orang dari desa Renda. Keterangan Muslihah, S.Pd, koordinator kegiatan menjelaskan bahwa dukungan dari pemerintah daerah sangat luar biasa.

Kegiatan yang menghadirkan 2 orang narasumber, yakni Dr. Atun Wardatun, M.Ag, MA,  Program Officer Alam Tara Institute dan Dr. Nurul Yaqinah, M.Ag, keduanya dosen UIN Mataram, bertujuan membentuk forum perjumpaan bagi perempuan-perempuan potensial untuk berbagi dan saling belajar tentang permasalahan dan konflik sosial, menyediakan sarana edukasi bagi kelompok perempuan untuk meningkatkan partisipasi dalam pembangunan masyarakat, mendorong kemunculan pemimpin-pemimpin perempuan lokal, serta membantu program pemerintah kabupaten Bima yang mencanangkan Bima Ramah.   

Dr. Atun Wardatun, M.Ag, MA, biasa disapa Atun ini menyatakan, sekolah ini adalah hasil dari diskusi panjang dan pertemuan intens dengan berbagai stake holders, melibatkan para aktivis, staf pemerintah, pendamping desa, tokoh perempuan, tokoh masyarakat di kabupaten Bima dan Kota Bima.

“Niatnya sudah lama, berawal dari penelitian disertasi tahun 2012 di desa Renda. Kepikiran ingin berbuat banyak untuk desa Renda. Saya berpikir ikut membantu dengan memaksimalkan peran perempuan untuk perdamaian di Bima. Langkah awal saya bertemu dengan Dahlan, Wakil Bupati Bima, untuk mengkomunikasikan ide tersebut. Alhamdulillah, Wakil Bupati Bima merespon dengan baik. Langkah berikutnya, saya berdiskusi dengan suami, A. Wahid, pendiri Yayasan Alam Tara Institute. Saya juga bertemu dengan Direktur Asian Muslim Action Network (AMAN) dalam sebuah acara Internasional Youth Conference. AMAN bergerak pada isu perempuan dan perdamaian. Komunikasi dengan Direktur AMAN berlanjut lewat Facebook usai acara itu. Ternyata AMAN telah memiliki sekolah perempuan perdamaian di beberapa provinsi di Indonesia, akan tetapi di provinsi NTB belum ada” ungkap Dosen Pasca Sarjana UIN Mataram Program Studi Hukum Keluarga ini.

Menindak lanjuti hal itu, pada 21 April 2018, diadakan workshop inisiasi pembentukan sekolah ini di Hotel Lambitu Bima dengan mengundang AMAN Indonesia untuk memberikan arahan. AMAN sebagai mitra inisiasi ide dan diskusi melatih Tim Alam Tara Institute yang menjadi fasilitator sekolah. Untuk mewujudkan ide ini, Atun bersama Dr. Nurul Yaqinah, M.Ag, Dosen Fakultas Dakwah  dan Komunikasi UIN Mataram membentuk Tim Pengabdian Masyarakat dan meminta dukungan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) UIN Mataram.

 

Baca Juga :


Saat workshop hadir seluruh stake holders terkait. Ada juga beberapa perwakilan desa di kabupaten Bima yang berkeinginan menjalin kerjasama membentuk sekolah perempuan. Akan tetapi ternyata tidak siap.   

 “Kami memilih desa Renda – Ngali sebagai ikon konflik di Bima. Hal ini dilakukan karena sebelumnya kami pun pernah melakukan penelitian terkait konflik Renda – Ngali. Apalagi ada key person yang sudah dikenal baik yakni Muslihah, S.Pd”, jelas Dr. Atun.      

Sekolah La Rimpu diharapkan menjadi agen perubahan pada 4 (empat) ranah, yaitu: potensi diri, relasi keluarga, pemberdayaan masyarakat, dan peran dalam pembangunan.

“Targetnya adalah akan munculnya pemimpin perempuan komunitas yang mampu  menjadi pioneer perubahan pada 4 (empat) ranah, yaitu: diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan daerah. Saya punya mimpi penginnya sekolah ini ada di setiap wilayah di Bima”, harap Dr. Atun mengakhiri wawancara. (NR)      



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan