logoblog

Cari

Kelas Perdana Sekolah Perempuan La Rimpu

Kelas Perdana Sekolah Perempuan La Rimpu

Kabupaten Bima, KM_Sekolah Rintisan Perempuan untuk Perubahan atau disingkat “La Rimpu” Renda – Ngali telah di launching sekaligus telah melaksanakan kelas

Peristiwa

Nurrosyidah Yusuf
Oleh Nurrosyidah Yusuf
27 September, 2018 21:46:23
Peristiwa
Komentar: 0
Dibaca: 5559 Kali

Kabupaten Bima, KM_Sekolah Rintisan Perempuan untuk Perubahan atau disingkat “La Rimpu” Renda – Ngali telah di launching sekaligus telah melaksanakan kelas perdana pada 22-23/09/2018 di Madrasah Aliyah (MA) Al Jihad Ngali Renda kabupaten Bima NTB. ). Pada kelas perdana La Rimpu diikuti oleh 25 orang peserta, terdiri dari 13 orang dari desa Ngali dan 12 orang dari desa Renda.

Kegiatan menghadirkan 2 orang narasumber, yakni Dr. Atun Wardatun, M.Ag, MA,  Program Officer Alam Tara Institute sekaligus Dosen Pasca Sarjana UIN Mataram Program Studi Hukum Keluarga dan Dr. Nurul Yaqinah, M.Ag, Dosen Fakultas Dakwah  dan Komunikasi UIN Mataram.

Sekolah La Rimpu sebagai hasil dari kerjasama antara Tim pengabdi LP2M UIN Mataram dengan Alam Tara Institute bertujuan membentuk forum perjumpaan bagi perempuan-perempuan potensial untuk berbagi dan saling belajar tentang permasalahan dan konflik sosial, menyediakan sarana edukasi bagi kelompok perempuan untuk meningkatkan partisipasi dalam pembangunan masyarakat, mendorong kemunculan pemimpin-pemimpin perempuan lokal, serta membantu program pemerintah kabupaten Bima yang mencanangkan Bima Ramah.   

Sekolah ini adalah hasil dari diskusi panjang dan pertemuan intens dengan berbagai stake holders, melibatkan para aktivis, staf pemerintah, pendamping desa, tokoh perempuan, tokoh masyarakat di kabupaten Bima dan Kota Bima. berawal dari penelitian disertasi tahun 2012 di desa Renda. Kepikiran ingin berbuat banyak untuk desa Renda. Saya berpikir ikut membantu dengan memaksimalkan peran perempuan untuk perdamaian di Bima”, jelas Dr. Atun.

Penjelasan Dr. Atun, rencananya sekolah La Rimpu akan berlangsung selama 20 kali pertemuan untuk menyelesaikan modul pemberdayaan. Sesuai jadwal kelas perdana La Rimpu berlangsung hingga tanggal 22 Oktober 2018. Tempat belajarnya selang-seling antara desa Renda dan desa Ngali. Para Peserta diharapkan dapat menjadi agen perubahan pada 4 (empat) ranah, yakni potensi diri, relasi keluarga, pemberdayaan masyarakat, dan peran dalam pembangunan. Sementara metode pembelajaran yang dipakai adalah andragogi, yaitu: metode pembelajaran orang dewasa. Modul bukan satu-satunya sumber belajar. Akan tetapi dapat disesuaikan dengan tuntunan kebutuhan peserta.

Ini bukan sekolah formal. Bukan sekolah dalam arti harus ada guru, harus ada bangunan, akan tetapi lebih sebagai sarana perjumpaan perempuan untuk saling memberdayakan. Perpaduan sekolah dan pengabdian. Setiap peserta adalah sumber belajar dan pengetahuan. Jadwal belajarnya pun tidak rigid tapi diusahakan setiap bulan ada kegiatan pembelajaran. Setelah 20 kali pertemuan bisa dibuka kelas baru. Para peserta ini sudah bisa menjadi fasilitator pada kelas baru”, Dr. Atun memberikan penjelasan secara rinci.

Sekolah La Rimpu Renda – Ngali sudah terbentuk struktur kepengurusan yang diketuai oleh Masitah, S.Pd. Dalam waktu dekat, kelas perdana Sekolah La Rimpu berencana melakukan Long March dari desa Ngali ke desa Renda. Peserta Long March adalah ibu-ibu yang memakai rimpu (pakaian khas perempuan Bima yang terdiri dari 2 helai sarung yang menutup aurat) sembari berjalan bergandengan tangan. Hal ini bertujuan untuk menunjukkan kepada khalayak bahwa ibu-ibu dari kedua wilayah yang sering terlibat konflik ini dapat berangkulan. Makanya, selayaknya generasi muda dari kedua wilayah ini juga dapat menghindari konflik.  

Peserta kelas perdana juga bersepakat untuk membuat majelis taklim persatuan, mengadakan Festival Ndempa serta Festival Tenun Rakyat. Festival Tenun Rakyat dinyatakan sebagai program unggulan. Persiapannya akan terus digodok selama pembelajaran berlangsung.

Pada kelas perdana ada hal yang menarik yang kami temui, salah satu akar konflik generasi muda adalah banyak anak-anak yang tidak terdidik secara baik oleh keluarga dikarenakan ditinggal orang tua menjadi petani bawang ke luar daerah. Orang tua setelah mendapatkan uang memanjakan anak-anaknya yang sudah ditinggal itu dengan membelikan gadget mewah dan kendaraan. Padahal keduanya ini menjadi sumber gaya hidup hedon dan dapat mengarah ke konflik. Tugas para peserta sekolah La Rimpu adalah sesegera mungkin mendata anak-anak korban keluarga nomaden ini  sehingga dapat diberikan pendekatan kreatif yang mengarahkan ke arah lebih baik”, jelas Dr. Atun.

 

Baca Juga :


Konflik sosial merupakan konflik yang berlangsung dalam kurun waktu yang berkepanjangan dan bisa terjadi atau meledak dalam waktu yang singkat.  Konflik tersebut memiliki dampak yang membias dan berkelanjutan dalam kehidupan masyarakat Bima seperti yang terjadi antara warga desa Renda dan warga desa Ngali. Saat ini, konflik tersebut memang mereda tetapi belum benar-benar berakhir dan berpotensi kembali muncul ketika dipicu oleh faktor yang tepat. Makanya diharapkan kelompok ini juga akan mencari cara kreatif untuk menghindari konflik antara dua wilayah.      

Tentu masih panjang perjalanan dan masih perlu kerja keras. Kami terbuka untuk bekerja sama dengan pihak manapun yang memiliki komitmen dan visi pemberdayaan yang sama. Semoga perjalanan selanjutnya lancar dan La Rimpu bisa membuktikan dirinya sebagai salah satu komunitas perempuan yang berkontribusi bagi kebaikan bersama.Terima kasih kepada semua peserta sekolah yang sangat antusias untuk segera mewujudkan perubahan dengan ide-ide kreatif mereka yang tak disangka-sangka. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada koordinator kegiatan, Muslihah, S.Pd dari Yayasan Pendidikan Al Jihad Bima. beliau mendukung penuh dengan menyediakan MA Al Jihad sebagai tempat kegiatan, membantu menghubungkan dengan para peserta potensial serta membantu mengundang pemerintah desa dan pemerintah kecamatan. Semoga kedepannya sekolah ini ada di setiap wilayah di Bima”, tutup Dr. Atun. (NR)    

 

 

 

 

 



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan