logoblog

Cari

Bale Jajar, RIKA Untuk Korban Gempa

Bale Jajar, RIKA Untuk Korban Gempa

Diteras rumah yang sederhana, duduk bareng bersama Arsitek Sosial dari Santiri Foundation, ikut serta juga dari Solidaritas Masyarakat Untuk Transparansi Nusa

Peristiwa

Renadi
Oleh Renadi
08 Januari, 2019 10:13:37
Peristiwa
Komentar: 0
Dibaca: 6188 Kali

Diteras rumah yang sederhana, duduk bareng bersama Arsitek Sosial dari Santiri Foundation, ikut serta juga dari Solidaritas Masyarakat Untuk Transparansi Nusa Tenggara Barat (Somasi NTB) yang memang memiliki program Design Arsitektur Lokal, terlibat juga para tokoh Adat Bayan, para tukang arsitektur lokal, dan beberapa kader muda. Seluruh peserta yang ikut dalam diskusi sebanyak 23 orang.

Berbagai pembicaraan terungkap dalam acara duduk lesehan yang digelar di sebuah rumah bentuk lokal yang dikenal dengan sebutan Bale Jajar. Ada yang mereviw tentang kejadian gempa yang menimpa Lombok beberapa kali dengan kekuatan yang cukup besar, ada juga yang menyampaikan tentang rumah yang dianggap bagus tetapi justru itu banyak yang roboh dan ikut dalam menambah jumlah korban jiwa, terselit juga tentang program pemerintah yang dikenal dengan Rumah Tidak Layak Huni. Diamana kesemuanya itu mengembalikan ingatan dan membuka mata tentang berbagai bentuk rumah yang masih berdiri kokoh dengan kesederhanaannya, yaitu arsitektur lokal yang ada di Masyarakat Adat Bayan.

Lombok Utara yang memiliki rumah dan masuk dalam data rumah rusak berat terdapat 68.000 rumah, bahkan lebih. Jumlah yang begitu besar tentunya akan berpengaruh terhadap ketersediaan bahan jika harus semuanya menggunakan arsitektur lokal berbahan alam, sehingga harus disesuaikan dengan bahan yang akan digunakan dalam pembangunan rumah kedepan untuk korban gempa.

Diskusi setengah hari yang dilaksanakan di Dusun Baturakit, Desa Sukadana (Desa Persiapan Baturakit) mmembicarakan juga tentang rencana ReDesign yang akan dibangun atau dibuat, termasuk tentang pondasi yang dulu dengan menggunakan tanah kedepan bisa menggunakan semen, begitu juga dengan atap yang dulunya pakai ilalang bisa menggunakan spandek, seng, atau jenis lainnya. Semua itu disepakati sebagai bentuk untuk menjaga kearifan dan ilmu lokal yang ada, tetapi harus disesuaikan dengan kondisi bahan yang tersedia saat ini.

Bale Jajar yang merupakan kategori Rumah Kayu (Rika) yang akan menjadi pilihan untuk  4 kelompok masyarakat korban gempa yang ada di Dusun Baturakit akan dijadikan sebagai contoh bagi Pokmas lainnya yang ada di Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Santiri Foundation dan Somasi NTB akan ikut mengawal untuk mempercepat proses ini ditingkat pemerintahan Kabupaten Lombok Utara, sehingga percepatan pembangunan untuk warga korban gempa di Lombok Utara bisa terlaksana.

Hasil dari diskusi ini akan ada 2 Design digital aristektur Bale Jajar yaitu, bentuk asli dan moodifikasi (ReDesign). Sekolah Adat Bayan yang memang terlibat sejak awal untuk mendampingi Masyarakat Adat Bayan dalam penyusunan Design arsitektur lokal akan menjadikan sumber pembelajaran untuk generasi kedepan dari hasil yang telah dicapai (Design asli), sehingga kedepan generasi penerus tahu tentang ilmu para orang tua yang sangat sesuai dengan kondisi alam yang ada di Lombok.

Kayu yang digunakan oleh para orang tua dalam membangun rumah menjadi pembicaar yang membuat para peserta (khususnya warga setempat) menjadi berfikir keras, dimana beberapa jenis kayu yang digunakan seperti Busur, kates, lengkukun, kelanjuh sudah langka. Disaat itulah dirasakan bahwa kita sudah banyak kehilangan kekayaan yang kita miliki. Bahan-bahan yang digunakan dalam membuat rumah sangat erat dengan segala nilai yang ada di Masyarakat Adat Bayan, tetapi karena pihak pemerintah yang khusus memnyeediakan bibit kayu justru tidak banyak yang mengajak masyarakat untuk menanam jenis kayu tersebut, tetapi lebih banyak jenis kayu seperti sengon, mahuni, jati, dimana jenis tersebut merupakan jenis kayu yang ada didaerah lain, dan belum tentu sesuai dengan nilai-nilai lokal yang ada di Masyarakat Adat Bayan.

Ya, memang hampir semua ilmu lokal yang ada di Masyarakat yang tumbuh dan berkembang di suatu daerah selalu memiliki hubungan yang erat denga alam, sesama, dan juga kayakinan religi (ketuhanan), begitu juga dengan Masyarakat Adat Wetu Telu yang ada di Bayan – Lombok Utara. Rumah sebagai tempat tinggal di Design sedemikian rupa yang difungsikan sebagai tempat tinggal, tempat untuk melaksanakan ritual, dan juga menjaga nilai-nilai sosial yang ada di Masyarakat.

 

Baca Juga :


Bale Jajar merupakan Design terbaru Masyarakat Adat Bayan, dimana bentuk rumah ini sudah memilki kamar sesuai dengan keinginan pemilik rumah. Tiang yang digunakan dalam membaut bale jajar ada yang 9 dan 12 tiang. Besar rumah diantara 35 meter persegi sampai 40 Meter persegi. Pada bagian depan rumah terdapat juga teras, yang biasa digunakan ssebagai teempat untuk berdiskusi, jika diberugak tidak cukup tempat.

Dalam percepatan pembangunan rumah yang sudah disepakati di 4 kelompok masyarakat korban gempa yang ada di Baturakit, terdapat sekitar 74 anggota/rumah memilki terget pembangunan akan selesai diakhir Februari 2019.

Anggaran 50 juta untuk bantuan korban gempa yang kategori rumahnya rusak berat menjadi anggaran yang akan digunakan oleh masyarakat.  Sementara saat ini Masyarakat merasakan aturan yang ada untuk mendapatkan anggaran tersebut sangat rumit, sehingga peran Santiri Foundation, Somasi NTB, Sekolah Adat Bayan (SAB), dan Majelis Pengemban Adat Bayan sangat penting dalam melakukan pendampingan dan juga koordinasi dengan pihak terkait, yaitu BPBD, PUPR, Pendaping, dan Pemerintah tingkat bawah yaitu desa.

Harapannya, jika 4 kelompok masyarakat ini bisa terselesaikan sesuai target dan harapan, maka kedepan untuk pokmas-pokmas yang lain bisa lebih mudah dalam proses pembangunan dengan anggaran yang disiapkan oleh pemerintah pusat.

Design rumah lokal yang dikembangkan ini akan menjadikan Lombok Utara menjadi daerah yang memilki keunikan dan khas, arsiteektur dengan nilai-nilai lokal akan memberikan kessan kepada generasi betapa hebadnya ilmu yang dimiliki orang tua terdahulu. Rumah yang dibangun teruji dan dapat mengakomodir berbagai sisi tentang kehidupan yang berjalan di Masyarakat. Semoga diskusi awal tahun di 6 Januari 2019 yang dilaksanakan di Dusun Baturakit sebagai permulaan yang baik untuk warga yang saat ini masih belum memilki tempat tinggal, Amiiiiiiiin



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan