logoblog

Cari

Sekolah Adat Bayan Rayakan Hari Jadi Perdananya

Sekolah Adat Bayan Rayakan Hari Jadi Perdananya

Kelompok Masyarakat yang tinggal di bawah Taman Nasional Gunung Rinjani pada bagian utara merupakan kelompok Masyarakat Adat yang dikenal dengan sebutan

Peristiwa

SAB & MAPAN
Oleh SAB & MAPAN
14 Januari, 2019 11:27:41
Peristiwa
Komentar: 0
Dibaca: 7055 Kali

Kelompok Masyarakat yang tinggal di bawah Taman Nasional Gunung Rinjani pada bagian utara merupakan kelompok Masyarakat Adat yang dikenal dengan sebutan Adat Bayan. Saat ini, system penyampaian ilmu pengetahuan kepada generasi melalui dongeng atau cerita hampir dakatakan punah. Kehadiran Sekolah Adat Bayan (SAB) merupakan satu-satunya yang focus untuk system informasi orang tua/Masyarakat Adat kepada generasi.

Memang, Sekolah Adat Bayan direncanakan sejak tahun 2013 (yang awalnya dengan nama Sekolah BUdaya) baru bisa dijalankan pada akhir Desember 2017 lalu. Pendukung berjalannya Sekolah Adat inipun dibantu oleh berbagai pihak diantaranya, AMAN, Life Mosaic, Lembaga Pranata Adat Gubuk Karang Bajo-Bayan, Somasi NTB, Santiri Foundation, Pemerintah Desa dan juga Kabupaten Lombok Utara.

Sekolah Adat Bayan atau yang disingkat SAB merayakan perjalanan yang sudah berjalan selama 1 (satu) tahun ditanggal 15 Desember 2018. Sebenarnya, pembentukan SAB bukanlah pada tanggal 15, tetapi dibentuk pada tanggal 20 Desember 2017 setahun yang lalu. Mengapa dirayakan pada tanggal 15 Desember tahun 2018 ini, itu disebabkan karena adanya support dari Life Mosaic yang juga focus pada Pendidikan Adat di Nusantara.

Suport yang diberikan adalah dalam bentuk anggaran sebesar Rp. 1,500,000, yang dirangkaikan dengan Peluncuran Perangkat Pendidikan berupa pemutaran film Sekolah Adat yang sudah berjalan dari daerah lain dan  juga Negara lain seperti Sekolah Adat Pamulaan. Rangkaian acara yang dibantu oleh anggaran yang ada ini juga adalah salah jalan untuk mengumpulkan para tokoh adat dan para orang tua/wali peserta belejar untuk mengumpulkan informasi dan ide untuk memajukan Pendidikan Adat yang ada di Sekolah Adat Bayan (SAB).

Pada dasarnya, Pengelola Sekolah Adat Bayan sudah merencanakan akan diadakannya HUT atau hari jadi, tetapi karena terdapat musibah gempa yang mengguncang Lombok pada umumnya, dan Bayan pada khusunya yang menyebabkan rencana tidak dijalankan, termasuk dengan kendala anggaran yang memang SAB sampai saat ini melum memiliki sumber anggaran pasti. Faktor-faktor tersebut menyebabkan rencana awal tentang HUT SAB ditiadakan, tetapi dengan adanya support dari Life Mosaic membuat para pengurus untuk diskusi lagi terkait dengan agenda atau rencana kegiatan tersebut.

Pada diskusi awal para pengelola, telah mendapat kesepakatan untuk menyelenggarakan kegiatan Peluncuran Perangkat Pendidikan Adat yang ditambah dengan Hari Jadi SAB atau HUT SAB yang perdana. Menyikapi anggaran yang minim, sehingga dibuatkan proposal untuk mendapat support anggaran tambahan dari pihak lain. Dari proposal yang dibuat, memang mendapatkan anggaran tanbahan sebesar Rp. 2,300,000, yang bersumber dari Kepala Bidang Kebudayaan Kabupaten Lombok Utara sebesar Rp. 1,000,000, dari Solidaritas Masyarakat Untuk Transparansi sebesar Rp. 1,000,000, dan dari Donatur perseorangan Atas Nama Yusuf Tantowi sebesar Rp. 300,000, sehingga total anggaran yang digunakan untuk kegiatan Peluncuran Perangkat Pendidikan Adat dan HUT SAB sebanyak Rp. 3,800,000,- (Tiga Juta Delapan Ratus Ribu Rupiah).

Anggaran yang terkumpul digunakan untuk kebutuhan konsumsi, snek, biaya kebersihan, sound, komunikasi, serta memberikan sedikit pengganti bensin beberapa tokoh adat yang hadir.

Peserta yang diundang pada acara tersebut adalah darui unsure Pemerintah yaitu, Kepala Bidang Kebudayaan Lombok Utara, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Lombok Utara,  Camat Bayan, UPTD Bayan, Kades Anyar, Para Orang Tua/Wali Peserta Didik, Peserta Didik, Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat, Somasi NTB (NGO/LSM yang focus mendampingi SAB), Santiri Foundation (Fokus Dalam Perencanaan Masyarakat Adat Bayan), Pengurus Daerah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Kabupaten Lombok Utara, Pengurus Wilayah AMAN NTB, dan beberapa Media. Total undangan sebnayak 50 orang, dan yang hadir hanya 35 orang. Minimnya kehadiran disebabkan karena beberapa factor diantaranya, kesibukan Lembaga dan juga pemerintah diakhir tahun, dan juga karena persiapan yang tidak maksimal (waktu persiapan sangat singkat). Meskipun demikian, acara Peluncuran Perangkat Pendidikan Adat dan juga HUT SAB berjalan dengan baik.

 

Baca Juga :


Rangkaian acara dimulai dengan pemutaran Film Pendidikan Adat yang ada di daerah lain dan juga Negara lain, baru dilanjutkan dengan penampilan Tembang Kumambang oleh peserta didik SAB, penyampaian Ketua Panitia (Kepala Sekolah SAB), disambung penyampaian Tokoh Adat dan Tokoh Masyarakat yang memang sering terlibat dalam pembelajaran selama SAB berjalan sebelumnya. Karena Kabid Kebudayaan KLU sedikit terlambat, sehingga bisa menyampaikan sambutan setelah penyampaian tokoh adat. Itu adalah rangkaian acara yang dilaksanakan dari pagi sampai siang.

Setelah makan siang, acara dilanjutkan dengan pemutaran film kegiatan SAB selama setahun sebelumnya, diantaranya adalah kegiatan pembelajaran diberbagai tempat dengan sumber berbagai macam dan dari berbagai pihak, kegiatan design arsitektur local, Psikososial di 3 tempat (Pasca Gempa), Temu Anak Peduli, Pementasan Seni diberbagai tempat, dan lain-lain. Pemutaran film ini adalah sebagai bentuk untuk mereviw kegiatanm yang sudah berjalan, sehingga sesi diskusi bisa memberikan masukan untuk kegiatan SAB kedepan.

Sesi diskusi yang dibuka dalam 3 tahapan/sesi, dengan masing –masing sesi diberikan kesempatan 3 orang untuk menyampaikan pendampat, peserta yang hadir sangat semangat, hal ini bisa dilihat dari keterlibatan para peserta. Beberapa poin atau kesimpulan yang dapat diambil dalam sesi diskusi yang dipimpin oleh Raden Sawinggih (Ketua Majelis Pengemban Adat Bayan) diantaranya adalah, SAB harus tetap diperjuangkan untuk tersampainya pengetahuan orang tua tentang adat kepada generasi, terus menjalankan kegiatan pembelajaran yang sudah berjalan (Tembang, Diskusi, Bahasa Inggris dan Pariwisata), Membuka atau memperluas lokasi pembelajaran, bekerjasama dengan Saifana Organic (Siap Membantu dalam Pembeljaran Bahasa Inggris dan Pariwisata, dan juga untuk pengelolaan Sampah, bahkan untuk pengembangan seni local).

Meskipun acara berjalan dengan baik, tetapi pengelola masih merasakan beberapa kekurangan diantaranya, minimnya pentas seni local yang idtampilkan, waktunya sangat singkat (idealnya sehari semalam), minimnya peserta yang hadir (terutama tokoh adat), dan gaungnya tidak begitu besar (waktu mepet dan media informasi yang sangat dekat dengan waktu acara). Kesemuanya itu memang secara tidak langsung disebabkan karena minimnya anggaran yang dikelola oleh panitia yang ada.

Kepala Bidang Kebudayaan Kabupaten Lombok Utara yaitu Pak Arnowadi juga menyampaikan terkait dengan waktu yang begitu singkat mulai dari persiapan, bahkan beliau menyampaikan untuk acara tahun depan harus didesign jauh sebelumnya, sehingga Pemerintah Daerah juga bisa memberikan support yang lebih maksimal.



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan