logoblog

Cari

Santri Sebagai Penggerak Revolusi Mental

Santri Sebagai Penggerak Revolusi Mental

Sekretaris Daerah Provinsi NTB, Ir. H. Iswandi mengatakan keselarasan program gerakan revolusi mental dengam program pemerintah provinsi NTB menjadi batu loncatan

Peristiwa

Suparman
Oleh Suparman
09 September, 2019 14:03:10
Peristiwa
Komentar: 0
Dibaca: 2312 Kali

Sekretaris Daerah Provinsi NTB, Ir. H. Iswandi mengatakan keselarasan program gerakan revolusi mental dengam program pemerintah provinsi NTB menjadi batu loncatan untuk memperkuat program Zero Waste.

"Alhamdulillah di NTB, gerakan revolusi mental sangat selaras dengan visi misi NTB yang sangat  sederhana, yaitu program kebersihan (Zero Waste)," jelas Iswandi dalam Dialog Aksi Nyata Gerakan Nasional Revolusi Mental Dalam Pembangunan Manusia Inklusif dengan Tema "Kolaborasi pemerintah dengan masyarakat sipil untuk mendorong layanan publik inklusif dan inspiratif" di Pondok Pesantren Darul Falah, Pagutan, kota Mataram.

Dijelaskanya, Pemerintah Provinsi NTB sebagai daerah tujuan wisata nasional maupun dunia ingin menjadi daerahnya sebagai daerah yang bersih, indah, aman dan menyenangkan bagi orang lain. Program Zero Waste dilaksanakan melalui lembaga pendidikan, dari tingkat yang paling rendah hingga perguruan tinggi termasuk juga untuk tempat tempat ibadah.

"Agar semua dapat menyediakan sebuah fasilitas yang menjamin bahwa lingkungan itu tetap berada dalam keadaan yang bersih. Ini salah satu contoh bahwa pemerintah NTB menggelorakan gerakan yang sama yaitu gerakan revolusi mental  untuk perubahan.

Untuk itu, menurutnya gerakan nasional revolusi mental yang digalakkan oleh presiden Joko Widodo selama lima tahun terakhir. Memberi harapan baru terhadap gerakan yang mendorong terjadinya perubahan di tengah masyarakat. Meskipun sebelumnya revolusi mental telah dicanangkan pula oleh Presiden Soekarno. 

"Nah, pada era presiden Jokowi sekarang kembali mengingatkan gerakan revolusi mental, yang namanya manusia dari waktu ke waktu untuk terus berupaya melakukan perubahan," tutur Sekda NTB.

Atas nama pemerintah NTB, Iswandi menyampaikan penghargaan atas inisiatif kegiatan ini. Pemerintah berharap kegiatan ini terus berkelanjutan dan ditularkan di semua tempat baik di majelis-majelis keilmuan pesantren. Dan sekarang gerakan ini dimulai dari pondok pesantren Darul Falah. Inisiasi gerakan ini untuk mendorong bagaimana kolaborasi antara pemerintah, santri, masyarakat dan organisasi kemasyarakatan. Tentu, revolusi mental akan terus perluas hingga semua kabupaten kota di NTB. 

"Oleh karena itu, inisiatif yang sudah baik dari PB NU dan seluruh PC NU Mota Mataram, kita harapkan agar diperluas ke cabang-cabang yang lain. Sehingga di semua tempat ada semangat yang sama untuk merubaha dan menatap masa depan yang lebih baik," harapnya.

Sebagai tuan rumah dimulainya gerakan revolusi mental ini, pimpinan pondok pesantren Darul Falah, TGH. Muammar Arafat mengatakan, sebenarnya revolusi mental telah lama dipraktekan oleh para santri Ponpes Darul Falah, hanya saja skalanya lebih pada aktivitas santri dalam kehidupan sehari-harinya. Misalkan menjaga kebersihan lingkungan pesantren, baik dari masalah kebersihan kamar mandi hingga sampai pada ketertiban mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Namun, untuk gerakan revolusi mental yang lebih pada membangun manusia yang inklusif, para santri ponpes Darul Falah akan siap menjadi motor penggerak revolusi mental demi perubahan yang lebih baik bagi daerah maupun bangsan  indonesia "revolusi mental telah dimulai di Ponpes NU Darul Falah paguran Mataram," Ungkap Tuan Guru.


Dialog dihadiri narasumber, Prof DR Ma’sum Mahfuz - Waketum PBNU, Kepala Kampung Media NTB, Fairuz Abadi serta Kadis Dukcapil Kota Mataram. Sekaligus dirangkaikan dengan peringatan 4  tahun Majelis Badruttamam Darul Falah Pagutan yang diawali dengan jalan santai bersama lima ribuan masyarakat dan santri serta Bazar Layanan Publik seperti pembuatan eKTP, Layanan SIM dan SAMSAT termasuk Layanan Pengaduan NTB Care juga mewarnai seluruh rangkaian kegiatan tersebut.

 

Baca Juga :


Indonesia memerlukan suatu terobosan budaya politik yang baru untuk memberantas praktek-praktek  buruk yang terlalu lama dibiarkan. Terobosan itu adalah revolusi mental untuk membawa perubahan yang lebih baik bagi bangsa Indonesia. Menanggapi pentingnya revolusi mental ini maka ditetapkanlah intruksi presiden no 12 tahun 2016  sebagai panduan dalam revolusi mental di tingkat nasional maupun daerah.

Kementrian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI berkolaborasi dengan pemerintah NTB, Kota Mataram dan PC NU kota mataram serta pondok pesantren Darul Falah dengan harapan agar santri, masyarakat dan aparat pemerintah daerah menjadi agen-agen perubahan, sebagai motor penggerak gerakan nasioanal revolusi mental dalam pembangunan manusia yang inklusif .

"Kami akan terus mendorong santri2 dan masyarakat di NTB menjadi moto penggerak revolusi mental, kita hadir disini untuk bersama sama mewujudkan pembangunan manusia indonesia yang inklusif," ungkap Asisten Deputi Pemberdayaan Masyarakat Kemenko PMK RI, Mustikorini Indrijatiningrum di Aula Al Abhar Ponpes Darul Falah. (8/9).

Apa yang menjadi sasaran dalam revolusi mental. Mustikorini menjelaskan Pertama; Indonesia melayani, diharapkan tidak ada lagi kesejangan sosial. Seluruh kelompok masyarakat memiliki akses yang sama dalam mendapatkan layanan publik. Hakekatnya revolusi mental dalam pembangunan inklusif membutuhkan berbagai prasyarat yaitu perubahan struktur sosial yang eksklusif menjadi struktur sosial yang akomodatif, kemudian perubahan dari akses struktural dengan mengembangkan nilai nilai yang lebih berempati kepada kepentingan kelompok marjinal. Kedua; Indonesia bersih, tertib, mandiri dan ndonesia bersatu

Ia mengatakan inklusif adalah keterlibatan penuh seluruh masyarakat, artinya tidak ada satupun yang tertinggal. Sehingga mereka terlibat dalam pembangunan manusia secara nasional, sebagai visi Indonesia tahun 2045 adalah masyarakat inklusif terwujudnya akses terhadap keadilan partisipasi dalam penyusunan kebijakan serta pementasan kesenjangan sosial.

"Semua ini memiliki target dan capaian yang secara khusus berorentasi pada perubahan. Perubahan dalam revolusi mental adalah perubahan cara pandang, cara kerja budaya, kemudian prilaku sebagai individu maupun institusi," katanya.

Kemenko PMK dalam hal ini sebagai penanggung jawab gerakan nasional revolusi mental di tingkat nasional selalu mendorong semua pihak untuk terlibat agar terciptanya kader-kader revolusi mental di tingkat provinsi, kabupaten sampai pada tingkat kelurahan dan desa.  Para kader ini akan terlibat secara langsung, dalam kerja perubahan secara nyata di tingkat komunitas dan institusi (Man)



 
Suparman

Suparman

nama Suparman, biasa di panggil Man. lahir di desa O,o Kec. Dompu, Kab. Dompu pada Tanggal 12 Februari 1992. anak pertama dari enam saudara. saya lahir dari pasangan Bapak A. Talib dengan Ny. Uniriyah. No HP 085337689025

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan