Bripka M Yamin Telah Lama Diincar

Wilayah Bolo bisa dikatakan salah satu kecamatan di kabupaten Bima – NTB, yang terbilang aman dan kondusif. Karena setiap ada pergerakan seperti rencana aksi demonstrasi misalnya, kerap dapat dikondisikan melalui pendekatan-pendekatan secara persuasif. Bahkan pemahaman untuk melakukan hal-hal serupa, dapat terurung karena masyaraktnya lebih mengutamakan mencari nafkah ketimbang melakukan hal lain yang tak bermanfaat.

            Namun sesekali ketika masalah itu muncul di wilayah Bolo—akan menjadi pembicaraan publik hingga di tingkat nasional. Diantaranya kasus pembunuhan Briptu Rachmat anggota Polsek Bolo, kasus ledakan bom di UBK desa Sanolo yang langsung ditangani oleh tim densus 88 antiteror, penggrebekan salah satu terduga anggota teroris di sekitar wilayah Bolo—hingga terakhir yakni penembakan anggota polisi Bripka M Yamin yang merupakan Kanit Intel Reskrim Polres kabupaten Bima.

Rentetan dari persoalan itu, menjadi bagian dari peristiwa penting dan catatan bagi pemerintah daerah serta aparat penegak hukum dalam meminimalisir persoalan-persoalan yang kemungkinan akan terjadi di tengah kehidupan masyarakat.

Dalam dua hari sebelum peristiwa penembakan, korban seakan telah merasakan apa yang akan terjadi terhadap dirinya. Karena beberapa pekan terakhir, korban sempat bercurhat bahwa dirinya kerap diintai oleh orang yang dianggap menjadi target aparat kepolisian. Namun sebaliknya, yang terjadi justru pelaku lebih awal bertindak dan menembak mati Bripka M Yamin di jalan raya.

 “Saat sekarang saya sedang gelisah, karena akhir-akhir ini saya selalu diikuti dan diincar oleh seseorang. Hidup saya ini terasa hampa, antara hidup dan mati karena selalui diikuti oleh seseorang”. Demikian curhat Bripka M Yamin kepada beberapa warga pada acara hiburan malam, di lingkungan RT10/RW05 desa Rasabou, Sabtu (31/5/2014 lalu) lalu.

Namun curhat tersebut, dianggap biasa oleh beberapa warga saat itu. Apa lagi seminggu sebelum acara hiburan, korban sempat datang melamar seorang gadis di sekitar lingkungan RT10 desa Rasabou. Namun keinginan dan harapannya, sia-sia belaka (ditolak).  

Jika dianalisa dari kalimat yang dicurhat oleh korban malam itu, menjadi dugaan kuat bahwa orang yang mengintainya tersebut ada rencana untuk melakukan aksi pembunuhan terhadap Bripka M Yamin. Pada kenyataannya, Bripka M Yamin akhirnya meninggal dengan sadis akibat digrondong lima butir timah panas.

Sementara, peristiwa naas yang dialami Bripka M Yamin, juga menjadi ‘tamparan’ bagi institusi kepolisian di negara ini. Karena kasus serupa, hampir terjadi dibeberapa daerah di Indonesia. Penembakan terhadap aparat penegak hukum tersebut, seakan begitu mudah bagi pelaku untuk melakukan tindakan kriminalitas. Apa lagi ditubuh Polri saat ini, penertiban terhadap penggunaan senjata, juga menjadi ‘momok’ bagi anggota polisi yang bertugas di wilayah yang kerap terjadi peristiwa semacam itu.(adi) 01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru