Van Gauz Bertemu Abu Macel


KM. Sukamulia – Setiap orang mempunyai idola dalam hidupnya. Mengidolakan seseorang merupakan hal yang wajar dan manusiawi. Biasanya, orang yang diidolakan itu akan menjadi sumber inspirasi bagi pengidolanya. Ea, misalnya saja penulis yang mengidolakan Bung Virgiawan Listanto alias Iwan Flas. Karena penulis mengidolakan beliau sejak kelas 5 SD maka penulis senang dengan lagu-lagunya dan ahirnya terinspirasi untuk berkarya seperti beliau. Meskipun karya penulis tidak bisa terkenal seperti beliau namun paling tidak penulis dapat mengikuti jejak beliau dengan bersyair (membuat puisi-puisi kritis dengan berbagai tema).

Terkait dengan masalah idola, putra pertama penulis yang bernama M. Tegar Van Gauz sangat mengidolakan Abu Macel. Anak berusia 10 tahun ini pertama kali mengnal Abu Macel dari lagu beliau yang berjudul Besuh Besuap. Penulis memperkenalkan lagu itu kepada Van Gauz pada ahir bulan Januari 2015. Pertama kali mendengar lagu itu, Van Gauz terkesima dengan suara khas yang dilantunkan oleh Abu Macel. Lewat lagu sederhana itulah, anak pertama saya itu kemudian penasaran dengan sosok Abu Macel sehingga ia keraf bertanya kepada penulis tentang siapa dan bagaimana Abu Macel.

Sesekali penulis heran, mengapa sich putra saya itu penasaran banget atas Abu Macel. Penulis pernah bertanya kepadanya, “Van, kenapa nanda suka dan ingin sekali bertemu dengan Abu Macel ?”, anak itu menjawab, “saya senang mendengar suaranya, saya juga sangat penasaran dengan sosok-nya sebab bapak sering menyebut-nyebut namanya sebagai orang yang lucu dan pintar”, jawab anak itu. “Jadi tegar ingn bertemu dengan beliau”, “ia pak, jabanya lirih”.

Keinginan Van Gauz untuk bertemu dengan Abu Macel mulai tercetus pada sekitar bulan Maret 2015. Keinginan itu semakin kuat sehibgga ia keraf meminta penulis untuk membawanya pada saat ada momen pertemuan Kampung Media yang dihadiri oleh Abu Macel. Penulis memberinya harapan, “nanti kalau Abu Macel datang ke Lotim, bapak pasti mempertemuan ananda”, ucap penulis kepadanya.

Sebelum mengidolakan Abu Macel, penulis tidak pernah mendengar anak itu menyebut sosok lain yang menjadi idolanya. Dan sungguh Abu Macel adalah sosok yang pertama kali menjadi idola putra pertama saya itu. Karena ia mengidolakan Abu Macel maka anak ini bercita-cita untuk menjadi penulis dan mengikuti jejak bapaknya sebagai jurnalis Kampung Media. Jika Kampung Media tetap eksis hingga anak ini berusia muda maka ialah yang akan menjadi pewaris halaman KM. Sukamulia yang penulis kelola saat ini, heheeee. Demikianlah segelumit latar belakang, mengapa Van Gauz mengidolakan Abu Macel (Kepala Kampung Media NTB).  

Setelah mendengar keinginan anak itu, penulis berancana untuk membawanya ketika ada temu kreatif Kampung Media Lotim, namun Alhamdulillah waktu yang ditunggu-tunggu tegar datang jua. Pada tanggal 20 Juni 2015, Abu Macel menulis sebuah artikel yang berjudul SILABUD Ramadhan dan pada dini harinya, beliau melayangkan pesan singkat kepada penulis yang isinya adalah beliau memberitahu penulis bahwa pada tanggal 22, 23, 24 dan 26 Juni 2015 beliau akan mengawal Fadli Padi, Dr. Zastrow Al Ngatawi, KI Ageng Ganjur dan grupnya dalam acara SILABUD Ramadhan.

Ketika bangun makan sahur, penulis memberitahukan hal itu kepada Van Gauz dan anak itu terlihat sangat senang dan tidak sabaran untuk menunggu kehadiran Abu Macel di Kota Santri (Pancor) sebab penulis berjanji akan mempertemukannya dengan Abu Macel ketika beliau mengisi acara SILABUD di Ponpes Darun Nahdatain NW Pancor.

Hari yang dinanti tibalah jua, sejak pukul 08.00 Wita (Jumat, 26 Juni 2015), Van Gauz mengajak penulis ke Pancor. Ia sepertinya tidak sabaran untuk bertemu dengan Abu Macel, heheee. Saya memberitahunya bahwa Abu Macel dan yang lainnya akan datang pada sore hari dan beliau akan mengisi acara SILABUD setelah selesai shalat tarawih. Namun anak itu tetap ngotot untuk saya bawa ke Pancor pada siang harinya dan ahirnya, setelah selesai menunaikan Shalat Jum’at di Masjid Al-Ridho Sukamulia, saya menyuruhnya siap-siap bersama ibu dan adiknya.

Pukul 13.45 Wita, si biru penulis hidupkan dan pacu menuju Kota Santri. Sesampai di Pancor, penulis membawa Van Gauz dan ibunya ke rumah Neneknya di Bermi dan setelah itu kami pergi ke BTN Lendang Bedurik. Setelah bebrapa menuaikan shalat ashar di BTN, saya langsung membawa Van Gauz dan adiknya (Rama) ke Kampus STKIP. Sesampai di sana, Van Gauz mengajak penulis untuk mencari Abu Macel. Saya kemudian membawanya mendekat ke stand panitia, di sana belum ada siapa-siapa. Hanya beberapa orang creuw yang sedang mempersiapkan segala sesuatunya. Sedangkan di panggung SILABUD tengah dimulai acara pentas music religi yang diisi oleh grup kasidah Ponpes Darunnahdatain dan grup Hadrah MDQH Hamzanwadi Pancor.

Hingga acara pentas seni selesai, penulis belum jua melihat sosok Abu Macel sehingga penulis mengajak Van Gauz dan Rama untuk pulang buka puasa dulu di BTN Lendang Bedurik. Seslai berbuka dan shalat magrib, Van Gauz langsung mengajak penulis kembali ke lokasi kegiatan SILABUD. Sesampai di sana, penulis sempat menanyakan posisi Abu Macel melalui pesan singkat. Dalam balasannya, beliau memberitahu penulis bahwa beliau sedang berada di gedung Sekertariat STKIP Hamzanwadi Selong. Penulis kemudian membawa Van Gauz ke lokasi dan menunggu Abu Macel di halaman sekertariat itu.


Tidak begitu lama menunggu, Abu Macel, Dr. Zastrow, Dr. Salman Al Farizi bersama yang lainnya ke luar dari sekertarian dan penulispun membawa Van Gauz untuk mendekati beliau. Heheee, Van Gauz sangat bahagia karena dia bisa melihat sosok Abu Macel secara langsung lebih-lebih setelah ia ikut poto bersama di depan sekertariat. Poto bersama itu, tidak henti-henti dilihatnya. Van Gauz belum puas dengan pertemuan singkat itu sebab ia belum dapat mengambil poto berdua dengan Abu Macel. Selesai shalat tarawih di Abror, Van Gauz langsung mengajak penulis ke panggung SILABUD supaya ia dapat duduk di bagian terdepan agar dapat menyaksikan penampilan kocak Abu Macel yang memandu jalannya acara pada malam itu.


Singkat cerita, setelah semua rangkaian acara SILABUD usai, penulis mengajak Van Gauz untuk langsung pulang namun anak itu tidak mau pulang jua sebab ia belum dapat poto berdua dengan Abu Macel. Penulis bingung dengan keinginan anak itu. Bagaimana tidak, setelah acara usai Abu Amcel dan yang lainnya masuk di stand creuw yang dikawal ketat oleh anak-anak pramuka dan pengaman lainnya. Penulis berkecil hati untuk dapat mempertemukan putra saya dengan Abu Macel, namun karena kegigihannya Van Gauz mengajak penulis untuk terus berdiri di sekitar stand. Anak itu terus memandangi Abu Macel yang berdiri bersama Dr. Zastrow di dalam stand. Setelah menunggu selama 20-an menit, ahirnya Abu Macel memangil penulis dan beliau memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan Tanya jawab singkat dengan Dr. Zastrow. Pada kesempatan itu pula penulis memberitahukan keinginan putra saya kepada beliau dan Abu Macel langsung merangkul Van Gauz untuk mengambil poto bersamanya. Sayangnya camera digital yang penulis bawa sedang lowbat dan tab yang penulis bawa juga tidak mempunyai bliz. Keinginan Van Gauz untuk poto bersama hampir punah, untungnya Abu Macel meminta bantuan kepada saudara Joepermata Maulana untuk mengambil satu poto saja bersama Van Gauz.


Ahirnya Van Gauz punya poto bersama dengan Abu Macel yang meskipun itu hanya satu poto saja. Van Gauz juga dapat salaman dan bahkan dirangkul mesra oleh sosok yang diidolakannya itu. Setelah poto bareng, Van Gauz sangat bahagia dan merasa tenang meninggalkan lokasi. Sesampai di BTN Lendang Bedurik, anak itu menceritakan pertemuannya dengan Abu Macel kepada Ibu dan bibik serta saudara misannya. Sungguh Van Gauz sangat bahagia atas pertemuan itu, hingga pukul 03.00 Wita anak itu nongkrong di depan Tab, ia memutar video-video saat Abu Macel berbicara dengan bahasanya yang kocak. Anak itu juga tidak sabaran menunggu saudara Joepermata Maulana mengirimkan potonya bersama Abu Macel melalu facebook, namun hingga waktu makan sahur tiba saudara Joepermata Maulana tidak kunjung aktif di halan FB.

Singkat cerita, selesai shalat tarawih penulis langsung masuk di halaman facebook dan Alhamdulillah saudara Joepermata Maulana telah mengirimkan poto kepada saya. Poto itu kemudian dipandangi terus oleh si Van Gauz, heheeee putra pertama saya itu sangat bahagia melihat potonya yang dirangkul oleh Abu Macel yang meskipun poto itu tidak begitu terang.

Pembaca yang budiman, demikianlah cerita tentang pertemuan seroang fans dengan sosok yang sangat ia idolakan (Van Gauz dan Abu Macel). Pada ahir tulisan ini penulis menghaturkan ucapan yang setinggi-tingginya kepada Abu Macel atas kesediannya bapak melunasi harapan putra saya. Penulis juga menghaturkan ucapan terimakasih kepada sanak Joepermata Maulana atas kesediannya mengambil membantu Van Gauz melunasi keinginannya dan atas kesediannya mengirimkan poto tersebut via facenook. Terimakasih dan salam dari kampung.

_By. Asri The Gila_ [] - 01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru