Anggota TNI Jadi Sasaran Amuk Senior

ANGGOTA TNI AD JADI SASARAN AMUK SENIOR

KM. MASBAGIK. Dusun Sungkit, Desa Kesik, Kecamatan Masbagik, Lotim, NTB. Di tengah hiruk pikuknya bangsa Indonesia yang akan menyambut Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-70 berbagai hal dilakukan. Seperti menghiasi jalan dengan bentangan bendera merah putih, berbagai perhelatan lomba-lomba dan kegiatan upacara pengibaran Sang Saka Merah Putih.

Namun dibalik itu semua, warga Dusun Sungkit Desa Kesik kini sedang dirundung pilu karena salah satu putra Desa meninggal dalam tugas dinasnya di Pulau Irian Jaya. Ia bernama Serda Doni Aprianto. Kebetulan dia berprofesi sebagai salah satu anggota Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD). Remaja berusia 21 tahun ini telah ditugaskan di luar Pulau Lombok setelah diangkat menjadi anggota TNI AD.

Tiga anggota TNI Yonif 751 Sentani Jayapura diperiksa menyusul kematian Serda Doni yang diduga tewas akibat penganiayaan. Ketiganya adalah AP, AS, dan S yang diduga, sebagai pelaku penganiayaan terhadap korban. "Mereka bertiga adalah senior korban, dan kini sedang diperiksa oleh POM," ungkap Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XVII/Cenderawasih, Letkol Inf Teguh Pudji, Jumat ().

Dia juga membenarkan kematian Serda Doni akibat tindakan berlebihan para seniornya. Anggota Yonif 751/Raider Kompi E senjata, Serda Dony Apriyanto tewas atas penganiayaan yang diduga dilakukan para seniornya. Korban tewas pada 13 Agustus 2015 sekitar pukul 11.30 WIT. Menurutnya, tindakan diberikan para senior sebagai hukuman karena korban dilaporkan melakukan tindakan tidak terpuji, yaitu pencurian. Sementara saat penganiayaan berlangsung, Komandan Kompi sedang sakit. "Tindakan hukuman diberikan karena korban dan rekannya memiliki tabiat yang tidak baik dan tidak patut dilakukan sebagai anggota Bintara. Sehingga seniornya merasa malu dan akhirnya memberi tindakan, namun berlebihan dan tidak melihat kondisi korban," lanjut Kapendam.

Serda Doni Apriyanto merupakan prajurit TNI Kodam XVII/Cenderawasih yang sehari-hari bertugas di kompi E (Kompi Senjata) di Distrik Arso, Kabupaten Keerom, Kota Jayapura, Papua. Dia meninggal dunia pada Kamis 13 Agustus 2015, pasca-dianiaya seniornya karena diduga memiliki kebiasaan mencuri. "Namun tindakan yang diberikan oleh para seniornya terlalu berlebihan dan tidak melihat kondisi yang bersangkutan saat itu," kata Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih, Letkol Inf Teguh Pudji Raharjo, Jumat ().

Sementara saat kejadian, menurut Teguh, Danki Kompi E sedang sakit sehingga tidak langsung menangani adanya laporan tindakan tidak terpuji Serda Dony. "Ini yang menyebabkan akhirnya para senior memberikan tindakan hukuman sebelum Danki memberi tindakan. Saat ini ada 3 orang yang sedang diperiksa di POMDam Cenderawasih," ungkap dia.

Lanjut Teguh, pasca-kejadian, korban Serda Dony mengeluh perutnya sakit perut atau maag, sebab korban memiliki riwayat sakit maag kronis dan diperiksa serta diberi obat oleh Takes, atas nama Pratu Iqbal.  "Sekitar pukul 11.00 WIT, korban dibawa ke Puskesmas Koya Barat dan setelah diadakan pemeriksaan, korban sudah meninggal dunia. Di hari yang sama sekitar pukul 14.15 WIT, jenazah dibawa ke Kompi E dan selanjutnya dibawa ke RS Marthen Indey.

Data yang diterima menyebutkan, Serda Dony Apriyanto diduga dianiaya para perwira di Kompi tersebut, hingga tewas. Serda Dony dianiaya karena dugaan pencurian uang temannya di Barak kompi yang terjadi pada  12 Agustus 2015. Korban meninggal dunia saat dilarikan ke Puskesmas Koya Barat. "Dony sempat diantar ke Puskesmas Koya Barat oleh 5 orang rekannya dan diperiksa langsung dokter Hilman Kosuma yang saat itu dokter jaga di   puskemas tersebut. Setelah diadakan pemeriksaan ternyata Serda Dony Apriyanto sudah meninggal dunia. Ditemukan sejumlah luka memar dibagian  punggungnya," kata salah satu sumber di Puskesmas Koya Barat yang enaggan disebutkan namanya.

Keluarga dan kerabatnya yang berada di Pulau Lombok mendapat informasi duka tersebut pada hari Kamis tanggal 13 Agustus 2015 sekitar jam 8 pagi. Dan semuanya semakin cepet menyebar khsuusnya dikalangan remaja dan masyarakat Desa Kesik melalui jejaring online yaitu facebook. Bahkan jauh hari sebelumnya Almarhum sering menelpon orang tuanya di Desa Kesik karena katanya sering dituduh melakukan pencurian. Namun orang tua belum memberikan izin dia untuk pulang ke kampung halaman. Tentu hal tersebut memberikan penyesalan yang amat mendalam bagi keluarga korban.

Ratusan kata bela sungkawa mengalir tak henti memberikan do’a kepada almarhum yang dulu ketika masih tinggal di kampung halaman dikenal sebagai orang yang pandai, pendiam dan tidak neko-neko. Dan kemarin malam sekitar jam 23.20 WITA hari jum’at 14 Agustus 2015 jenazah almarhum tiba di rumah duka dan langsung di sambut oleh jeritan tangis oleh sanak saudara dan kerabat tetangga almarhum.

Almarhum Serda Doni akhirnya dimakamkan di Pekuburan Umum Dangah, Desa Kesik dengan upacara militer kemudian dilanjutkan dengan kegiatan keagamaan warga setempat. Penulis mendo’akan semoga amal ibadah yang telah di lakukan diterima disisi Allah SWT.

By_Andre D’Jails () -05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru