Gembira di Haul ke 11

Pantai Labuan haji merupakan salah satu pantai terdekat dari Base Campe Gema Alam NTB. Selong Kab. Lombok Timur. Pantai ini, dengan jarak tempuh menggunakan kendaraan “mobil” menghabiskan waktu 30 menit. Kami berangkat sekitar pukul 13:30 dan samapi dilokasi pukul 14:00 tanpa hambatan.

Sampai dilokasi kami mencari tempat yang sejuk dan nyaman. Tempat sejuk, nyaman berada dibawah pohon, biasanya. Disebelah selatan Labuan Haji, satu satunya memilki pohon tapen yang cukup rindang membuat lokasi ini tepat untuk dijadikan persinggahan bermain. Dari jarak parkiran lumayan kira-kira 100 meter ke lokasi tersebut, supaya aman dan bertanggung jawab kami membayar uang parkir sebanyak Rp. 500.00 untuk satu mobil dan Rp. 200. 00 satu sepeda motor.  

Kami mengeluarkan alas duduk sambil membawa makanan dari mobil. Makanan yang disiapakan sebelumnya, diangkut satu persatu menju lokasi yang kami anggap nyaman yaitu dibawah pohon tapen. Pohon tapen membuat lokasi pantai jadi teduh dan adem. Dari sepanjang pantai labun haji hanya sedikit yang berlokasi seperti ini, itu terlihat ketika para pengunjung hanya berkerumun disekitrannya .    

Tiupan angin sepoi-sepoi, guguran daun kering menyatu diatas pasir menjadi warna pada kehidupan pantai. Debur ombak, anak-anak dan bapak soraksorai menikmatinya. Di kejauhan sana terlihat perahu kecil melitas dari ujung dermaga, seorang nelayan pulang. Terik matahari siang  memantulkan cahaya pada ombak mengikuti garis-garis putih. Pasir hitam nan lembut memancarkan silaunya ke pelupuk mata,  pantai yang indah, dengan langit kebiru-biruan mencekram terik mata hari.   

Diatas pasir menggelar tikar dan karpet. Kami berkumpul, semua setaf dan pengawas beserta anak, istri mereka. Dari mereka ada yang bercerita-cerita, minum kopi, membakar sebatang rokok, dan membuka bingkisan pisang goreng sembari menunggu teman-teman yang belum datang. Satu persatu bermunculan, mereka yang diajak, para Co laki-laki dan perempuan dari desa binaan Gema Alam.

Community Orgnaizing CO laki-laki dan perempuan berasal dari desa, Mekarsari, Sapit, Suela, Beririjarak, Jurit Baru. Mereka para Co terlibat sejak tiga tahun sebelumnya. Mereka berkumpul dengan membentuk lingkaran bersama, acara dimulai; pembukaan, sambutan-sambutan dan ucapan “selamat ulang tahun yang ke 11” kepada Lembaga Gema Alam terutama ketua. Pembukaan sekaligus sambutan yang disampaikan oleh ketua gema alam, sambutan selanjutnya oleh bang Tacke dan pengawas “bang Wen”. Dari berbagai dinamika dalam berorganisasi hanya mereka berempat yang bertahan selaku pendiri. Anggota dan pengurus gema alam sampai hari ini adalah tiga belas orang dua orang sebagai badan pengawas.   

Acara selanjutnya kegitan perlombaan sebagai hiburan, diantaranya; lomba pasilitator, rebut pertanyaan, makan gerupuk untuk anak-anak. Dari lomba tersebut sebagai sering/berbagi ilmu pengetahuan yang telah didapat sebelumnya dengan tema PSDA dan Gender.

Lomba pasilitator, peserta lomba membuat lingkaran. Dari lingkaran tersebut disepakati oleh semua peserta untuk menujuk tiga orang yang dipilih sebagai pasilitator. Dari yang tiga terpilih akan diadu satu samalainnya dengan mengambil sobekan kertas yang berisi pernyataan. Pernyataan yang ada akan dijelaskan secara rinci dan lugas oleh mereka sekereatif mungkin. Untuk penilainnya akan dinilai oleh masing-masing peserta dengan unsure-unsur sebagai berikut; cara penyampaian dan tingkat pemahaman. Sekor dari masing unsure tersebut 5 sampai 10.     

Rebut pertanyaan, lomba ini semua peserta diminta untuk memperhatikan pertanyaan dari panitia. Bagi siapa saja “peserta” dualauan meng-acungkan tangan maka dia berhak menjawab. Apabila jawaban yang diungkap masih kurang mka pertanyaan akan diganti dan diajukan kesemua peserta. Begitu seterusnya. Setelah kegitan ini habis selanjutnya lomba yang menghibur yaitu makan grupuk bagi anak-anak. Pesertanya dari anak-anak mereka.  

Hari yang menyenangkan dan menggembirakan. Riuh gemuruh tawa, terpingkal-pingkal dari mereka, melihat anak-anaknya berusaha berjuang meraih gerupuk menggunakan mulut. Tangan ditaruh dibelakang pantat, mulut mencari lembaran gurupuk yang digelantungkan. Gerupuk diikat dengan tali wol pada sebuah ranting pohon tapen seukurang dengan anak-ank.   

Tidak terasa hari mulai gelap. Kami menghabiskan berjam-jam kehidupan ini dengan berbagi senyum. Acara ulangtahun merupakan ajang silaturrohim antara kami, meraka, para CO, setaf dan pengawas gema alam NTB. Selasa 08-18-2015 () -05

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru