Begibung, Melestarikan Tradisi Sasak

Rengganis (KM)_Istilah ‘Begibung’ mungkin agak asing bagi anak-anak suku sasak masa kini, betapa tidak, tradisi Begibung praktis sudah jarang dipraktekkan masyarakat suku sasak-Lombok sehingga informasi dan pembelajaran regeneratif tidak berlanjut. Tata cara, atau pola kehidupan yang dikatakan ‘modern’ dengan pelan tapi pasti menggeser tata cara ‘lama’ yang dianggap ancient mode dengan tata cara modern yang entah dari mana asalnya, harus diakui, tradisi begibung telah kabur dan hamper hilang oleh model-model baru seperti prasmanan, model makan berdiri dan lain sebagainya.

Begibung sebagai sebuah terminologi dalam kehidupan bermasyarakat suku sasak Lombok adalah sebuah aktifitas ‘makan bersama’ yang biasanya menggunakan pelepah daun pisang (terakhir nampan) sebagai wadah untuk menaruh nasi dengan hidangan lauk beraneka jenis, lalu diatas pelepah daun pisang tersebut, masyarakat suku sasak terdahulu makan bersama dengan lauk yang sama tiada pembeda, biasanya deretan orang yang begibung lumayan banyak sehingga menjadi pemandangan yang cukup menarik.

Seperti yang terjadi di Masjid Nurul Huda Dusun Pohdodol Desa Bajur Kecamatan Labuapi, namun begibung disini tidak lagi menggunakan daun pisang, tetapi begibung disini menggunakan wadah dari dulang besi (nare), begibung ini terjadi setelah selesainya prosesing ijab qabul sepasang muda mudi warga Dusun Pohdodol, dimana dalam pelaksanaan ijab qabulnya dipandu oleh Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Labuapi H. Muhaimin (Minggu, 27-9-2015).

Begibung memberikan pelajaran yang cukup berharga bagi masyarakat suku Sasak, betapa kebersamaan itu menjadi sangat penting, perbedaan status tidak menjadi penghambat bahkan begibung melebur semua status sosial menjadi satu, begibung juga memberikan pesan, betapa suku Sasak sangat toleran dan memberi satu sama lain, makna inilah yang telah mulai terkikis dalam ‘kamus nilai’ kehidupan masyarakat kita.

Masyarakat kita lebih bangga dan tergoda (untuk) dikatakan modern ketimbang ‘jadul’, karena modern selalu dipersepsikan sebagai sebuah kemajuan dan keterbukaan padahal nilai-nilai keterbukaan itu sendiri sudah tuntas dalam messeges tradisi-tradisi yang dianggap katrok, semisal begibung, begibung yang kini sudah mulai dilupakan masyarakat sasak Lombok (sebenarnya) telah menemukan momentumnya untuk kembali me-review dan menjadi outo-critic perilaku masyarakat yang sudah kadung seperti insider untuk kembali membangun semangat kebersamaan dan kegotong-royongan.

Tradisi begibung, mulai sekarang mesti digalakkan kembali bukan berarti modernitas harus dibelakangi, keduanya mesti jalan beriringan sehingga spirit masa lalu terus bisa berdialog dengan baju kehidupan yang terus berubah-ubah, harapannya, akan hadir sebuah masa dimana masyarakat suku sasak berada pada posisi bangga dengan tradisinya namun selalu terbuka dengan laju-derap modernitas yang terus berkembang. LA [] - 01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru