Asal Muasal Pacoa Jara

Sebuah perayaan besar yang dilakukan di Bima ketika ulang tahun ratu Belanda Wilhemina pada 31 Agustus 1927, kala itu berbagai perlombaan diadakan oleh pemerintahan Hindia Belanda yang terpusat di kota Raba seperti sepak bola, balap karung dan pacuan kuda. Awalnya pacuan kuda dilakukan secara tradisional di pantai-pantai tanpa arena.

Kemudian oleh pemerintah Hindia Belanda membuat arena pacuan kuda modern di kampung Manggemaci dengan standar ukuran arena kuda Bima. berbondong-bondong warga Bima turut ikut mencoba pacuan  modern yang digelar itu berhubung sejak dahulu kuda adalah bagian dari kehidupan masyarakat Bima sejak masa lampau.

Pacuan kuda atau dalam bahasa Bima disebut “Pacoa Jara” semakin digemari oleh warga Bima kala itu, apalagi didukung dengan arena modern hingga menjadi bagian budaya orang Bima. memasuki tahun 1930 perlombaan skala lokal diadakan oleh kesultanan Bima untuk khitanan anak Sultan Bima. Peserta dari Dompu dan Sumbawa juga turut serta dalam memeriahkan perlombaan pacuan tersebut.  

Awalnya pacuan kuda di joki oleh orang-orang dewasa, bukan anak kecil yang seperti dilakukan oleh pacuan zaman sekarang. Bagaimana sejarahnya bisa ada joki kecil? Seperti yang di ceritakan oleh Bapak Dero (69) bahwa ketika dia kecil dia meliaht saat itu sekitaran tahun 1937 joki biasanya dilakukan oleh orang dewasa, kemudian selama perang dunia ke 2 terjadi pacuan tidak lagi diadakan, hingga kedatangan pihak Jepang tahun 1942 di Bima, kemudian pacuan kuda gencar diadakan lagi atas persetujuan pihak Jepang.

Lalu banyak pemilik kuda kurang puas melihat kudanya melaju, hingga dicoba anak kecil yang sudah dilatih untuk menjadi joki agar beban pada kuda berkurang hingga kecepatan kuda bertambah, cerita Dero pada KM Samparaja. () -03

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru