Renungan: "Apakah Bencana Atau Murka?"

BIMA, Setelah dua kali berturut warga kota Bima bergelut dengan banjir bandang, maka rasa kebahagian dan canda mereka pun redup seketika bagaikan listrik padam seketika sehingga membuat suasana  malam tambah gelap gulita. Rasa kebahagian dan canda berubah menjadi rasa takut dan khawatir akan ada ancaman banjir susulan kembali, yang mana sebelumnya mereka telah diserang dua kali banjir, angin disertai dengan listrik padam dan jaringan komunikasi terputus.

Tim kami mencoba menelusuri lokasi banjir di kota Bima, Senin (26/12/2016), memasuki kawasan wisata pinggir pantai Ama Hami hingga ujung ke ujung kota Bima, ternyata tidak ada yang tersisa oleh gamukan banjir bandang dua kali berturut. Seperti rumah, Toko, Kios, Pasar, Terminal, Kantor-kantor, Pos jaga, mobil sampai dengan kandang ayam dan kambing, yang dulunya nan elok dan cantik, malah kini telah poraporanda bagaikan habis peperangan antar negera.

Kami salut dengan warga Kabupaten Dompu dengan rasa solidaritasnya yang tinggi, sehingga panggilan hati mereka bergerak cepat tanpa ada komando dari siapa pun. Seluruh elemen masyarakat dan ormas langsung mengalang dana, seperti dari tingkat RT/RW dan Desa/Kelurahan mereka berbondong-bondong mengumpulkan dana, misalnya melalui pengeras suara di masjid-masjid, ada yang turun langsung di jalan dan ada juga yang door to door.

Kami perhatikan hanya perbedaan menit bantuan dari Kabupaten Dompu terus beriringan menuju kota Bima tidak ada habis-habisnya selama empat hari terakhir. Sehingga Pasar Dompu sepi oleh penjual dan pengunjung begitupun kampung-kampung sepi penghuni, disebabkan mereka menjadi relawan mendadak langsung membawa bantuan dan melihat saudaranya yang terkena banjir di Kota Bima.

Sejarah mencacat, bahwa Kota Bima belum pernah terkena banjir sebesar sekarang ini. Kecuali pada saat zaman presiden ke-6 Indonesia mengunjungi Kota Bima sehingga terjadi banjir besar yang menenggelamkan beberapa kampung. Namun banjir bandang sekarang terjadi dua kali berturut-turut sehingga menenggelamkan Kota Bima sepenuhnya, Apakah ini merupakan Bencana Alam ataukah Murka Allah?

Bencana Alam, setelah penulis mencoba menganalisa dan mendatangi beberapa masyarakat dalam luar kota Bima, seperti warga Kecamatan Wera dan kampung Wawo. Bahwa telah terjadi pengundulan gunung di sekitar pengunungan Wera dan Wawo sehingga Waduk penampungan air yang berada di Wawo tidak bisa menampung lagi karena melebihi kapasitas, disebabkan curah hujan yang lebat sehingga tidak ada lagi akar pohon yang menyaring/menampung air hujan tersebut. Maka air hujan pun langsung mengalir melalui aliran sungai dan waduk Wawo. "Pegunungan di sekitar Wera sudah habis dibabat oleh warga buat cocok tanam, jadinya sudah gundul gunung," ujar Safaidin warga Desa Tawali Kecamatan Wera Kabupaten Bima, pada penulis saat menjadi relawan di Jatiwangi kota Bima, Senin (26/12/16).

Begitupun pendapat gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi mengatakan, salah satu sebab terjadi banjir adalah terjadi pengundulan hutan dan pegunungan secara masif oleh warga setempat, Kamis, 22 Desember 2016.

Entah, apakah Pemerintah Kabupaten dan Kota memperbolehkan warganya untuk membuka lahan pertanian dengan membabat hutan dan gunung? itu jawabannya ada pada Pemerintahan setempat. Gubernur NTB menyayangkan pada masyarakat Kabupaten Bima atas pembabatan hutan dan gunung dengan alasan untuk cocok tanam, setelah mengunjungi kota Bima terkena banjir bandang pertama.

Pembabatan hutan dan gunung telah terjadi di Kabupaten Dompu dengan alasan yang sama, sehingga pemandangan Kabupaten Dompu yang rindang dan hijau dengan pepohonan, kini pemandangan tersebut berganti dengan hutan dan gunung yang gundul. Udara sejuk 20 silam kini berbalik dengan udara sumuk atau panas tiap tahunnya. Apakah Dompu akan terjadi banjir seperti kota Bima? Maybe yes or not.

Terlepas dari situ semua, belumnya adanya pemimpin daerah yang memampu memanfaatkan kekayaan Alam di sekitar Bima dan Dompu tanpa harus membabat habis hutan dan gunung. Belum adanya inovasi dan penyediaan lapangan kerja yang tepat untuk masyarakat sekitar yang memadai. Niatnya memberikan lapangan kerja tapi lupa dengan dampak dan akibat kemudian harinya.

Dilihat dari sisi religi, masyarakat Bima dan Dompu terkenal dengan kental dengan Agama Islam dan selalu menghormati orang-orang yang paham agama. Sehingga lahirlah ditengah-tengah mereka pemimpin yang religius mampu mensejahterakan rakyatnya pada tahun sebelum 90-an. Karena ada agama dalam sanubari dan hatinya yang selalu memimpin dan mengarahkan dalam kebaikan tanpa mementingkan pribadi dan golongan tertentu. Misalnya, shalat lima waktu di tepat waktu mereka jaga pagi siang malam tanpa ada absennya. Begitupun puasa, zakat, infak dan sedekah keluarkan bagi orang-orang yang membutuhkan. Mereka paham Itu semuanya hak Allah harus dipenuhi, yang telah menciptakan manusia. mereka tidak cari muka depan khalayak umum karena akan merusak amalan ibadah dan hati. 

Jika ada calon generasi pemimpin daerah Dompu dan Bima melakukan shalat, puasa, zakat, infak, sedekah dan haji, dengan kepentingan pribadi atau golongan tertentu, bahkan ingin dipuji khalayak umum. Ingatlah para pemimpin daerah pada zaman dulu, mereka lakukan itu semua Lillahi ta'ala sehingga nilai-nilai kejujuran, tanggungjawab, amanah, solidaritas terbentuk dalam diri dan sanubari. Mereka memberantas habis segala jenis kemaksiatan dan kejahatan di tengah-tengah masyarakatnya, karena itu semua sumber dari bencana dan murka Allah.    

Apa saja maksiat dan kejahatan yang menjadi sumber bencana dan murka Allah tersebut, yaitu menghalalkan atau menglegalkan PEMBUNUHAN, PROSTITUSI, KORUPSI, MIRAS, , LGBT, NARKOBA dan sejenisnya.

Penulis tidak menunding pihak manapun, mari kita buktikan bersama dengan fakta yang ada. Kejahatan dan kemaksiatan lebih besar dibandingkan kebajikan dan mementingkan agama. Pemimpin kita butuhkan adalah pemimpin yang miliki pribadi dan hati nurani yang religius serta agamis, bukan religius dan agamis kepentingan pribadi dan kelompok tertentu, apalagi ingin dipuji dan mengambil hati rakyat. Kalau begitu jadinya, maka siap-siaplah kehancuran bagi tanah kelahiran, Daerah, bangsa dan Negara.

Semoga akan muncul pemimpin yang memiliki hati dan pribadi religius serta agamis yang membawa perubahan bagi daerah, bangsa dan Negara, amiin. [] - 01

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru