Mengenal Mata Uang Kesultanan Bima

Abad 17, kesultanan Bima muncul sebagai kesultanan baru yang membawa perubahan pada roda perdagangan di Timur. Sekitaran tahun 1650 seorang Syahbandar dari Melayu diangkat. Syahbandar bertugas untuk mengurus pelabuhan dan pelayaran. Syahbandar haruslah seorang yang bisa menguasai kurang lebih 7 bahasa, yaitu Melayu, Belanda, Portugis, Inggris, Arab, Jawa dan Makassar. Kejayaan ekonomi kesultanan juga ada pada pintarnya pengolahan perdagangan oleh Syahbandar.

Menurut Fahrurizki, penggiat sejarah Bima, Bandar Bima mengikuti pasaran perdagangan besar jalur Malaka, bagi kerajaan besar tentu harus mempunyai alat tukar (uang) dan Bima juga mempunyai mata uang real tersendiri. Sejak tahun 1700-an uang real mulai digunakan sebagai alat tukar yang sah di Bima, Ungkapnya.

Pada real biasanya bertuliskan nama sultan yang saat itu berkuasa, dan pada real gambar di bawah tahun 1735 saat itu Bima di pimpin oleh sultan Alauddin.

Mata uang emas dari Kerajaan Samudra Pasai untuk pertama kalinya dicetak oleh Sultan Muhammad yang berkuasa sekitar 1297-1326. Mata uangnya disebut Dirham atau Mas, dan mempunyai standar berat 0,60 gram (berat standar Kupang). Namun ada juga koin-koin Dirham Pasai yang sangat kecil dengan berat hanya 0,30 gram (1/2 Kupang atau 3 Saga). Uang Mas Pasai mempunyai diameter 10–11 mm, sedangkan yang setengah Mas berdiameter 6 mm. Pada hampir semua koinnya ditulis nama Sultan dengan gelar “Malik az-Zahir” atau “Malik at-Tahir”.

Di daerah Sulawesi, yaitu Sulawesi Selatan berdiri kerajaan Gowa. Kerajaan Gowa pernah mengedarkan mata uang dan emas yang disebut jingara, salah satunya dikeluarkan atas nama Sultan Hasanuddin, raja Gowa yang memerintah dalam tahun 1653-1669. Di samping itu beredar juga uang dan bahan campuran timah dan tembaga, disebut kupa.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru