Catatan Peristiwa Gempa Lombok Terdahsyat

Bencana gempa bumi 7,0 skala richter, merupakan yang terdahsyat sepanjang sejarah NTB. Bahkan tercatat menjadi gempa terbesar tahun 2018 dan urutan ke-7 sejak Indonesia berdiri. 

Pada Minggu siang, ratusan pejabat berbagai negara ada di Lombok. Sebut saja Wiranto, Menko Polhukam RI. Wiranto Penuh bangga menyampaikan keberhasilannya menggagalkan ratusan rencana teror di Indonesia. Tepuk tangan dari Mendagri Australia, Peter Dutton membahagiakan hadirin di hotel Golden Palace.

Minggu malam (5/8), pulau Lombok seperti biasanya terasa menenangkan. Ada yang mengaji, bermain dengan anaknya, dan berbagai aktivitas melepas lelah. Aku sendiri tengah menikmati kopi, sendiri.

Kedamaian itu buyar, ketika jarum jam menunjukkan pukul 19.46 Wita. Lolongan histeris terdengar dimana-mana. Spontanitas saja, orang-orang menangis. Semua berhamburan menjauhi rumah dan bangunan.

Bumi berguncang begitu keras. Terasa cukup lama. Gempa berkekuatan 7,0 SR memporak-porandakan pulau Lombok dengan begitu cepat.

Semua orang mengutamakan keluarga masing-masing. Gempa besar, membuat mereka saling berpelukan sambil menangis. Apalagi disambut dengan listrik yang mati total, suasana semakin horror tak terkontrol.

Aku pun keluar rumah. Melongo, menaruh kedua tangan di pinggang. Sebelah kiri, kanan dan depan, orang-orang menangis menyebut nama Tuhan.

Di atas tanah, bumi terasa oleng. Seperti berada di atas kapal laut. Cukup lama. Tiang listrik bergerak. Anak-anak ketakutan. Ayahnya menggendong sambil memeluk istri.

Bagaimana keluargaku, calon keluargaku, dan nasib yang akan dialami warga disini. Pikiran-pikiran terburuk melintas kuat.

Sambungan telepon gangguan. Cukup sulit mengetahui keadaan orang-orang tersayang. Sementara gempa susulan terus datang.

Gempa disebutkan berpotensi tsunami. Menciptakan keadaan mencekam. Banyak orang langsung mengungsi. Jalan raya penuh, rumah-rumah hancur. Korban jiwa dan luka-luka berjatuhan. Begitu menyayat hati. 

Suasana masih menegangkan. Aku telah mengetahui orang-orang tersayang tidak menjadi korban. Namun air laut dikabarkan naik. Semua warga panik, menangis berteriak tiap detik.

Ibu-ibu juga ketakutan. Apalagi bagi yang suaminya berjauhan. Ada pula ibu hamil besar mengandung 9 bulan.

Langkah terbaik saat itu, harus bisa bersama keluarga. Menghadapi bencana dengan orang-orang tercinta.

Banyak warga telah berlari, menjauh ingin menyelamatkan diri. Istri dan anak dibawa kesana-kemari.

Motor ingin kukeluarkan. Namun seorang ibu, melintas kebingungan. Suaminya sedang berada di luar. Tangisan, rengekan dan ketakutan tak kuasa ditahan.

Ibu Bunga namanya, hanya berdua dengan anaknya yang juga menangis ketakutan. Sementara warga lainnya, berkumpul dengan keluarga lengkap menghadapi gempa susulan.

Ibu Bunga begitu nekad. Ia ingin masuk ke rumahnya sebelum mengamankan diri. Beberapa barang berharga harus dikemas. "Ayah cepat ayah, cepat pulang. Air laut juga mau sampai sini. Ayaaaahh, pulang ayah," teriaknya menangis berharap suami segera datang.

Tidak ada yang memperdulikan tangisan ibu Bunga. Semua orang harus menyelamatkan keluarga masing-masing. "Mas, tolong mas antar saya masuk rumah," ucapnya memohon.

Semua orang tidak berani masuk rumah lagi. Listrik padam, gempa susulan mengancam. "Nanti kita naik genteng kalau air laut sampai sini," katanya merayu.

Aku langsung memeluk anaknya yang terus menangis. Usianya sekitar 4 tahun, gadis kecil yang cukup gemuk. Kugendong menuju rumahnya, bersama sang ibu yang tersedu-sedu.

Rumahnya gelap. Tidak ada satupun sumber penerangan. Bermodalkan senter HP, anaknya kuturunkan di luar rumah. Gadis kecil itu tidak boleh nyawanya terancam. Gempa susulan bisa saja kembali mengguncang. "Ya Allah, aku sadar kalau selama ini aku bukan orang yang bertakwa. Tapi ibu ini harus dibantu. Aku siap apapun yang terjadi di dalam rumahnya," bathinku.

Sejujurnya, ada rasa takut yang begitu kuat saat itu. Pikiran kotor bermunculan. Bagaimana jika gempa susulan merobohkan bangunan? Bagaimana jika nanti kami terkena reruntuhan di dalam?

Ibu Bunga, dengan tangan gemetaran mulai membuka pintu. Gelap sekali. Senter HP sedikit bisa menerangi. Beberapa dokumen berharga, dan juga tas dikemas. Aku membantu semampunya.

Cukup lama berada di dalam sebuah kamar. Rasa takut dan keadaan panik, ternyata memasukkan barang ke tas menjadi sulit. Hal seperti itu yang memakan waktu. "Tenang buk, tenang," ujarku.

Sebisa mungkin kutenangkan pikirannya. Meski jelas, ibu itu tidak mau mendengar apapun. Istigfar terus terucap dari bibirnya yang masih saja gemetar.

Di luar, orang-orang ribut. Air laut semakin dekat, katanya. Setelah keluar dari rumah, kepanikannya menyenggol HP yang kupegang. Jatuh dan membuat LCD-nya retak. HP yang berjasa menjadi sumber penerangan. "Gak apa-apa buk, gak rusak," ucapku cepat.

Suaminya belum juga datang. Jalan raya macet, membutuhkan waktu untuk bisa segera pulang. Kami kemudian ke tanah lapang. Berkumpul dengan warga lainnya yang memilih tetap bertahan.

Tetangga sebelah, ibu Naila juga dramatis. Suaminya sedang berada jauh di luar rumah. Ia sendirian berusaha menyelamatkan anak pertamanya. Namun juga harus menyelamatkan diri dan anak di dalam kandungan yang berumur 9 bulan.

Saat itu, gerbang rumah sudah terkunci. Untuk membuka gembok saja, ibu Naila tidak mampu. Tangan kirinya memeluk sang anak yang begitu ketakutan. Sedangkan tangan kanan, gemetaran akibat rasa takut. "Saya buka gembok saja gak bisa. Suami saya gak ada. Saya menangis," kenangnya.

Malam itu aku juga mencari seseorang. Memastikan jiwanya tidak terguncang. Memberikan jaminan ketenangan menghadapi bencana yang datang. Bersyukur akhirnya menemukan dia sehat beranjak pulang dan hilang.

Di tempat lain, ada Wakil Gubernur NTB H Muhammad Amin, sedang menikmati makan malam. Orang nomor dua di NTB itu, menemani Menkopolhukam Wiranto, Menkumham Yasonna Lauly, Mendagri Australia Peter Dutton, dan ratusan pejabat lainnya dari berbagai negara. 

Para pejabat itu, sedang makan malam di gedung lantai 12 hotel Golden Palace. "Saat gempa, kami semua lagi wellcome dinner. Semua panik. Masya Allah, barangkali ini yang namanya kiamat kecil," tutur Wagub.

Makanan yang ada di meja berjatuhan. Beberapa pejabat terjatuh dari tempat duduknya. Semua lari dengan tingkat kepanikan akut. Dalam pikiran saat itu, harus bisa menyelamatkan diri. 

Seisi gedung bergemuruh. Suara bangunan yang retak, kursi berantakan dan teriakan histeris membuat suasana semakin horror. Golden Palace menjadi mencekam. "Hanya doa yang bisa kami panjatkan. Berdoa sambil lari dari pintu darurat," kata Wagub Amin. 

Semua pejabat berhasil selamatkan diri secara dramatis. Mereka yang dari luar negeri, kemudian dipulangkan langsung ke negaranya masing-masing. Kegiatan penting untuk membicarakan masalah terorisme, ditunda karena sudah tidak prioritas lagi. 

Sekda Provinsi NTB, H Rosiady Sayuti tengah berada di Mataram Mall, ketika gempa terdahsyat sepanjang sejarah NTB terjadi. Rosiady pun ketar-ketir bersama pengunjung mall lainnya yang Kocar-kacir.

Tepat, saat itu Rosiady sedang menunaikam shalat sunnah Isya. Lokasinya berada di lantai dua. "Berhamburan kita keluar. Apalagi disana kan di lantai dua tempat shalat. Jadi butuh waktu keluar," ceritanya.

Isu tsunami, gempa yang berkali-kali. Membuat pulau Lombok mencekam. Lebih dari 400 orang telah meninggal dunia. Ribuan orang terluka. Puluhan ribu rumah hancur. Rata dengan tanah, dan kerugian triliunan rupiah. 

Hari ini, sebagian besar warga masih mengungsi. Gempa susulan yang sempat terjadi, membawa trauma di hati.

Bencana telah dialami masyarakat dua mingguan. Semua harus bergandengan tangan. Masyarakat Lombok kuat dan bisa bertahan. Saatnya bangkit melakukan pembenahan. Memperbaiki diri, daerah menuju arah kemajuan dan ridho Tuhan.

(Sabtu, 11 Agustus 2018).

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru