Menanti Percepatan

Optimisme Kepala BNPB, Letjen Doni Monardo rasanya tak terlalu berlebihan.  Perwira TNI yang baru saja ditunjuk menjadi komandan baru BNPB menjanjikan seluruh rumah korban gempa terbangun dalam tiga bulan.

Dusun Temuan Sari, Desa Akar Akar Kecamatan Bayan terletak di ketinggian. Dari jalan utama menuju Lombok Timur, penanda desa Akar Akar dengan tulisan huruf berbahan besi besar besar di sebuah persimpangan mengharuskan pengunjung berbelok ke kanan. Jalan menanjak menuju Dusun Temuan Sari. Sejauh dua kilometer dari persimpangan, pemandangan khas dusun pegunungan memberikan kesan lega dan luas. Rumah rumah warga masih berjarak jauh jauh. Namun ada pula semacam pekarangan, istilah Sasak  untuk sebidang tanah yang dihuni beberapa kepala keluarga.

Di pekarangan ini, rumah rumah baru berdiri kokoh. Hujan yang mengguyur sejak siang mengesankan kilap barang baru oleh sapuan hujan. Ada sepuluh rumah di pekarangan ini. Di depan rumah masing masing ada tiang bendera baru bercat putih.  Lengkap dengan bendera Merah Putih yang juga masih baru.

Salah seorang Ketua Kelompok Masyarakat, Hairudin menuturkan 'komplek' hunian ini dibangun dalam waktu hanya sepuluh hari. Artinya, satu rumah satu hari. 
"Semua rumah di kompleks ini dibangun oleh TNI. Satu rumah diselesaikan selama 24 jam", ungkap Hairudin.

Konstruksi rumah tahan gempa seluas 6 x 3 meter ini memang kokoh. Selain baja pilar lebar yang menopang rumah ada pula setengah meter selasar beton disekitar rumah setelah pondasi. Pilar baja inilah yang meredam guncangan gempa hingga kekuatan 7 SR.

"Nanti setelah gempa kami tinggal mengencangkan baut baut di pilar baja yang longgar. Pengalaman saat gempa 5,3 terakhir kemarin kami malah tidak merasakan apa apa di dalam rumah", ujar Hairudin.

Dituturkan Hairudin, pembangunan sepuluh rumah di tempatnya ini membuatnya terkesan dengan kerja TNI saat itu. Kelompoknya yang berjumlah sepuluh kepala keluarga itu ditawari TNI untuk dibangun. Tak menyangka secepat itu, sepuluh rumah terbangun dalam waktu sepuluh hari. Pria yang berprofesi guru kontrak ini mengingat cara kerja TNI yang tak kenal lelah. Satu rumah dikerjakan oleh sepuluh sampai limabelas orang anggota TNI mulai dari pagi hingga pagi berikutnya. Saat ini 1500 anggota TNI disebar sebagai fasilitator dan pendamping. Tugas mereka membantu masyarakat korban gempa agar segera mendapatkan hunian baru. 

Sejak lama pelibatan TNI dalam penanganan masalah nasional membuahkan hasil maksimal. Nantinya, pelibatan TNI dalam rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana gempa dilakukan dalam bentuk operasi teritorial (Opster). Dijelaskan Pangdam IX/Udayana, Opster TNI 2019 Kodam IX/Udayana yang dilaksanakan di wilayah Korem 162/Wira Bhakti bertujuan untuk membantu mempercepat pemulihan akibat bencana alam dengan sasaran penanganan pengungsi, percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi, pembuatan huntara serta pembuatan fasilitas air bersih. Dalam implementasi tugas lapangan, Opster ini terbagi dalam dua bentuk kegiatan, baik kegiatan fisik maupun nonfisik. 

Di satu sisi membantu tugas tugas pemerintah untuk urusan administrasi. Dengan cara   membantu penyelesaian masalah administrasi.

Ataupun secara langsung terlibat memanggul batu gunung, membuat pondasi sampai mendirikan tiang baja demi percepatan kesejahteraan warga.(JM)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru