Perjalanan Sejarah Bendera Merah Putih Di Samili

Suara lantang menggelegar dipegangsaan suara yang membawa perubahan bagi rakyat Indonesia yaitu Proklamasi dibacakan Sukarno pada hari Jum`at bertempat di jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat. Di Nusa Tenggara Barat berita mengenai Proklamasi pertama kali didengar awal bulan September 1945, dari para pemuda Bima bernama M Noer Husen dan Haris beserta satu pemuda Sumbawa yang memang di utus dari Singaraja untuk menyampaikan berita kemerdekaan dan Proklamasi di Lombok dan Pulau Sumbawa. Para pemuda memang sengaja di utus oleh Ida Bagus Manuaba selaku ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) bagian kepulauan sunda kecil di Singaraja. M Noer Husen dan Haris di bekali surat yang ditujukan untuk tiap – tiap kepala daerah mengenai kemerdekaan, serta mempunyai tugas memperkenalkan bendera Merah Putih di Lombok dan Pulau Sumbawa.

Pada tahun itu kemerdekaan Indonesia di bagian timur khususnya kepulauan Sunda hanyalah sebuah hayalan, di Bima sendiri kemerdekaan Indonesia hanyalah kabar angin. Banyak orang tidak percaya bahwa Indonesia bisa merdeka, terbebas dari belenggu kolonialisme. Seorang pemuda bernama M Noer Husein terpilih dan dipercaya oleh KNID untuk membawa kabar kemerdekaan Indonesia di kepulauan Sunda kecil, satu pucuk surat dan bendera merah putih tiba pada siang hari di Desa Samili 23 September 1945 dikediaman Haji Husein.

Desa yang menerima dan mengakui Kemerdekaan Indonesia pertama di Bima paska Proklamasi dibaca pada tahun 1945 oleh Sukarno dan Muhammad Hatta adalah Desa Samili. Dengan penuh percaya akan masa depan bangsa yang lebih baik mereka di Desa Samili mengakui kemerdekaan bagi bangsa Indonesia telah tiba, kisah Ahmad Husein (almarhum) ketika Mbojoklopedia mewawancarai (27 November 2017) dikediamannya Desa Samili.

Membawa kabar kemerdekaan berarti membawa kematian, intaian para kaki tangan Belanda terus mengintai gerak geriknya, namun M Noer Husein sudah mewakafkan nyawanya untuk sang Merah Putih, agar Bima terbebas dari penjajahan. Tanpa ragu warga Samili mempercayai kemerdekaan yg dianggap hayalan Sukarno oleh Belanda, Samili menyatakan akan mendukung merah putih dengan segenap jiwa.

Malam hari pada tanggal 2 September 1945 M Noer Husen yang di utus dari Singaraja di panggil untuk datang ke Tente untuk ditanyai perihal kemerdekaan Indonesia. Dari perjalanan Desa Keli menuju Tente, M Noer Husen sangat gembira karena ada orang yang respon terhadap pesan kemerdekaan yang dia bawa dari Singaraja tersebut. Sesampainya di Tente dan langsung bertemu dengan beberapa pemuda yang sudah menunggunya untuk kabar Proklamasi kemerdekaan tersebut, saat itu malam hari dan dalam suasana perang tentu rasa curiga dan was-was pasti menghinggapi pikiran M Noer Husen Muda kala itu.

 

“Apakah benar kemerdekaan Indonesia sudah di proklamasikan?” Tanya Thayib Abdullah kepada M Noer Husen,“Benar”, kata M Noer Husen, kemudian Thayib Abdullah bertanya lagi “Apakah ada bukti-buktinya?!”. Kemudian di keluarkan bukti tersebut yaitu tiga buah surat dari Gubernur Sunda Kecil I Gusti Ketut Puja, di kutip dalam Rangkaian Melati Kehidupan H. M Thayib Abdullah sebuah buku Biografi perjuangan yang di terbitkan tahun 1997.

“Ini bukan berita lagi, tetapi sudah suatu kepastian yang dapat diyakini kebenarannya. Maka marilah saat ini juga kita berikrar mendukung Proklamasi tersebut dan menyusun barisan untuk mempertahankan kemerdekaan ini” kata Saleh Bakry, dalam Rangkaian Melati Kehidupan H. M Thayib Abdullah.

Setelah tersiar kabar Proklamasi kemerdekaan di tanah Bima, serentak dari berbagai tokoh pemuda saat itu datang di Tente untuk mendengarkan langsung dari pembawa pesan kemerdekaan M Noer Husen bahwa Negara Indonesia telah Merdeka dengan di bacakannya Proklamasi Kemerdekaan oleh Sukarno-Hatta. Maka pada malam itu juga para pemuda di Tente tersebut berikrar dan bersumpah untuk membela Proklamasi kemerdekaan 45 tersebut di Bima sampai titik darah terakhir. Dimana saat itu juga di buatlah surat ikrar sumpah setia, ikrar sumpah tersebut di tanda tangani dengan memakai tinta darah mereka sendiri yang di kenal dengan sumpah “Berjuang Sampai Mati” untuk Merah Putih yang dilakukan di rumah Thayib Abdullah.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru