Lautan Dulang di Pengadangan


KM. Sukamulia - Rabu (30 Oktober 2019), Desa Pengadangan mencatat sejarah besar dalam dunia pariwisata budaya Lombok pada khususnya dan NTB pada umumnya. Bagaimana tidak, hari ini semua penjuru jalan utama di Desa Pengadangan terlihat bak lautan dulang. Sungguh itu adalah pemandangan yang sangat spektakuler dan membuat seluruh mata yang menyaksikannya terbelalak kagum.

Tepat pada pukul 16.00 wita, 3.000 orang masyarakat perempuan Desa Pengadangan mulai membanjiri 4 (empat) penjuru jalan utama Desa Pengadangan. Pelan namun pasti, perempuan-perempuan berpakaian adat sasak itu berjalan mengusung dulang. Barisan terdepan dari mereka berjalan membawa wadah berisi dupa (pedupaan) dan di barisan kedua membawa air bunga rampai yang kemudian disusul oleh para pembawa dulang.

Sungguh Parade 3.000 Dulang menjadi pemandangan yang menakjubkan dalam Opening Ceremony Pesona Budaya 2 Desa Pengadangan. Barisan pembawa dulang berjalan dengan rapi melalui empat penjuru jalan utama Desa Pengadangan. Mereka berjalan bak koloni semut merah yang sedang mengusung makanan ke sarangnya.

Barisan pembawa Dulang datang dari empat penjuru menuju perempatan Desa Pengadangan. Sesampai di perempatan, mereka berjalan dengan konsep rantai sehingga barisan mereka tiada putusnya. Ketika mereka sampai di perempatan jalan, Desa Pengadangan betul-betul terlihat bak lautan merah dengan gelombang yang penuh irama.

Pusat Desa Pengadangan dipenuhi oleh lautan manusia yang berasal dari berbagai penjuru Lombok, Nusantara dan tamu manca negara dengan mata yang terbelalak dan terkagum-kagum menyaksikan parade Dulang Pesona Budaya 2 Desa Pengadangan. Tidak terasa air mata ini mengalir haru bertabur bangga menyaksikan momen tersebut.


Setelah semua barisan pembawa Dulang berjalan pada koridor yang telah ditetapkan, mereka menurunkan Dulang dan berbaris rapi memenuhi empat penjuru jalan utama Desa Pengadangan. Dulang berwarna merah berpadu dengan warna hitam pake adat para pembawanya dan warna putih pakean adat golongan laki-laki.

Empat buah Dulang Tinggi beserta pedupaan dan wadah berisi air bunga rampai berhias mayang di letakkan di pusat acara yang nantinya akan disantap bersama-sama (begibung: sasak) oleh golongan kiyai (pemuka agama), tokoh adat, tokoh pemerintahan dan perwakilan tokoh masyarakat pada puncak acara Betetulak. Hal ini mengandung makna bahwa adat, agama, pemerintah dan masyarakat adalah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain dalam berbagai aspek kehidupan.

3.000 Dulang menjadi pemandangan yang sungguh menakjubkan dalam catatan sejarah budaya Gumi Sasak (Lombok) di era milenium. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Even Pesona Budaya 2 Desa Pengadangan adalah Even Pariwisata Budaya terspektakuler sepanjang catatan sejarah even budaya yang diselenggarakan di berbagai wilayah Pulau Seribu
Masjid (Lombok).

3.000 Dulang yang diusung oleh masyarakat perempuan Desa Pengadangan pada Even Pesona Budaya 2 Desa Pengadangan (Rabu, 30 Oktober 2019) merupakan wujud kecintaan masyarakat Pengadangab terhadap budaya leluhur Gumi Sasak yang sempat meluntur oleh gesekan modernisasi.

Parade Dulang dalam Pesona Budaya 2 Desa Pengadangan ini adalah bukti bahwa masyarakat Desa Pengadangan adalah masyarakat yang sangat kompak dan bermartabat dalam kehidupan sehari-hari mereka. Hal tersebut juga merupakan kesuksesan yang luar biasa bagi Pemerintah Desa Pengadangan beserta Pokdarwisnya.

Semoga di tahun-tahun mendatang Pesona Budaya Desa Pengadangan semakin spektakuler. Semoga pula Even Pesona Budaya Pengan ini dapat dijadikan sebagai motivasi oleh desa-desa lain yang ada di Lombok untuk mengembangkan potensi pariwisata dan budayanya. Salam dari Kampung.
_By. Asri The Gila_

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru